Cuaca buruk memaksa nelayan Kupang parkir perahunya

id Nelayan

Para nelayan Kupang sedang memanen cakalang dari atas buritan KM Nuruh Hikmah di wilayah perairan Nusa Tenggara Timur. Namun, kisah keemasan ini terpaksa mereka harus "kuburkan", karena kondisi cuaca yang sangat buruk. (ANTARA Foto/Asis Lewokeda)

"Sekarang kami mulai menghadapi masa paceklik yang berlangsung hingga tiga sampai empat bulan ke depan," kata Muhamad Nasir.
Kupang (ANTARA News NTT) - Para nelayan di Kota Kupang, khususnya nelayan tangkap cakalang, mulai memarkirkan perahunya akibat cuaca buruk melanda hampir seluruh wilayah perairan tangkap di Nusa Tenggara Timur, belakangan ini.

"Sekarang kami mulai menghadapi masa paceklik yang berlangsung hingga tiga sampai empat bulan ke depan," kata Muhamad Nasir, salah seorang nelayan tangkap ikan cakalang yang berbasis di TPI Tenau Kupang, Senin (17/12).

Ia mengatakan jumlah kapal cakalang yang berbasis di Kota Kupang sekitar 14 kapal yang saat ini terpaksa parkir akibat cuaca buruk.

Tidak hanya itu, lanjutnya, kapal-kapal bagan yang melaut di perairan dekat dan menjadi pemasok ikan-ikan hidup untuk umpan bagi kapal cakalang juga berhenti melaut.

"Sekarang bukan pasokan umpan yang lemah lagi tapi kosong karena kapal bagan juga tidak melaut dan banyak yang parkir di sekitar Sulamu," kata nahkoda sekaligus pemilik kapal nelayan pole and line KM Nurul Hikmah itu.

Menurut Nasir, kondisi cuaca buruk seperti ini sangat menyulitkan para nelayan untuk membangun ekonomi keluarga dengan baik.
Para nelayan di Kupang, Nusa Tenggara Timur sedang merenda hari-harinya dengan memperbaiki pukatnya ketika kondisi cuaca yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk melaut. (ANTARA Foto/Kornelis Kaha).
Ia menambahkan pada saat masa panen ikan, kapal-kapal cakalang bahkan bisa meraup keuntungan hingga lebih dari Rp50 juta untuk sekali melaut dengan hasil tangkapan di atas lima ton.

Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) NTT Wham Wahid Nurdin mengatakan masa paceklik selalu menjadi masa yang sulit bagi perekonomian masyarakat nelayan setempat.

Di saat paceklik, lanjutnya, nelayan hanya bisa mencari pekerjaan serabutan dengan pendapatan yang tidak menentu untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya.

"Nelayan terpaksa mencari pekerjaan dadakan, jadi sopir, kondektur, buruh, kuli bangunan, tukang, dan lainnya untuk bisa bertahan hidup," ujanya.

Ia mengatakan, dalam banyak kesempatan pihaknya juga mendorong nelayan agar mau menciptakan usaha lain sebagai sumber pendapatan seperti usaha budidaya perikanan darat, namun mereka selalu terbentur pada modal usaha.
Cuaca buruk melanda wilayah perairan NTT
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar