Lagi perang dingin antara PDIP-NasDem

id hubungan pdip-nasdem

Lagi perang dingin antara PDIP-NasDem

Mikhael Raja Muda Bataona. (ANTARA/Bernadus Tokan)

"Menurut saya, jika benar sindiran Surya Paloh itu ditujukan kepada PDIP dan Megawati, maka itu secara psikologis bisa dibaca bahwa saat ini sedang ada perang dingin antara PDIP dan NasDem," kata Mikhael Bataona.
Kupang (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Mikhael Raja Muda Bataona mengatakan, sindiran Surya Paloh yang menyebut ada partai nasionalis padahal perilakunya masih konservatif.

"Menurut saya, jika benar sindiran Surya Paloh itu ditujukan kepada PDIP dan Megawati, maka itu secara psikologis bisa dibaca bahwa saat ini sedang ada perang dingin antara PDIP dan NasDem," kata Mikhael Bataona kepada ANTARA di Kupang, Selasa (12/11).

Artinya, dalam dimensi laten atau tak kasat mata, terbaca bahwa di kubu Jokowi sebenarnya ada dua poros, yaitu poros NasDem dan poros PDI Perjuangan.

Hanya saja terbaca bahwa poros PDIP kelihatan lebih diterima oleh mitra koalisi lainnya, yang umumnya masih merasa nyaman dengan distribusi kabinet oleh Jokowi.

"Jadi mereka ini tidak mau terlibat dalam manuver politik pascapelantikan menteri dan kejutan saat masuknya kubu Prabowo dalam pemerintahan Jokowi-Amin," katanya.

Baca juga: Pelukan Jokowi kepada Paloh ekspresi kesantunan yunior kepada yang tua
Baca juga: NasDem-PKS akan menyiapkan Anies untuk Pilpres 2024


Menurut dia, mereka yang masih nyaman itu adalah Partai Golkar, PKB dn PPP. Mereka secara psikologis terbaca masih nyaman dengan Jokowi dan PDIP.

Tapi entah ke depannya nanti seperti apa, belum bisa dipastikan karena Partai Golkar juga akan menggelar Musyawarah Nasional pada Desember mendatang.

Sebaliknya, kata pengajar Ilmu Komunikasi Politik dan Teori Kritis pada Fakultas Ilmu Sosial Politik Unwira itu, apa yang dilakukan Nasdem, itu murni strategi politik.

Karena sebagai partai politik, Partai NasDem tentu punya strategi dan itu normal. Hanya saja, dari aspek etika politik elit politik lain membacanya secara lain. Dan juga karena ini era keterbukaan sehingga publik mempersepsikannya secara berbeda.

"Padahal kita tahu bersama bahwa politik itu kan soal kepentingan, sehingga di dalamnya adalah manajemen 'oportunity' atau peluang, kompromi dan konsensus bahkan pragmatisme dan manajemen konflik," katanya.

Dan semuanya itu akan diuji oleh waktu dan persepsi publik, kata Mikhael Bataona yang juga pengajar investigatif news dan jurnalisme konflik pada Fisip Unwira Kupang itu.

Karena itu, menurut dia, Surya Paloh dan NasDem sedang memperagakan strategi itu.

Bahkan jauh sebelum Jokowi umumkan kabinet, Nasdem sudah bermanuver dengan mengumpulkan koalisi lain selain PDIP dan Surya Paloh melakukan pertemuan dengan Anis Baswedan saat Megawati bertemu Prabowo. 

Baca juga: Tidak mungkin NasDem keluar dari gerbong koalisi Jokowi
Baca juga: NasDem tak mungkin keluar dari kekuasaan
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar