Pemerintah daerah harus serius antisipasi peringatan FAO

id peneliti pertanian,bptp,ntt,fao,pangan

Pemerintah daerah harus serius antisipasi peringatan FAO

Peneliti Sumber Daya pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dr. Tony Basuki (ANTARA/Bernadus Tokan)

Betul, sesuai dengan peringatan FAO, mau tidak mau kita harus serius mencermati dan mengantisipasi peringatan oleh FAO itu. NTT sebagai "kawasan semi arid" biasanya paling rentan terhadap risiko ini
Kupang (ANTARA) - Peneliti Sumber Daya pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Nusa Tenggara Timur Dr. Tony Basuki mengatakan pemerintah daerah harus serius mencermati dan mengantisipasi peringatan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia PBB (FAO) akan ancaman krisis pangan.

"Betul, sesuai dengan peringatan FAO, mau tidak mau kita harus serius mencermati dan mengantisipasi peringatan oleh FAO itu. NTT sebagai "kawasan semi arid" biasanya paling rentan terhadap risiko ini," kata Tony Basuki kepada ANTARA di Kupang, Senin (22/6).

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan peringatan FAO akan ancaman krisis pangan, dan apa yang harus dilakukan pemerintah daerah di NTT dalam mempersiapkan pangan lokal di daerah untuk membantu ketahanan pangan masyarakat.

Baca juga: NTT miliki banyak potensi pangan lokal
Baca juga: Bupati Kupang sebut keterersediaan pangan aman selama COVID-19


Menurut dia, Pemerintah NTT, saat ini di musim kemarau atau MT 2(ASEP =April-September) memprogramkan penanaman jagung melalui Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) seluas 10 ribu ha, yang melibatkan 20 ribu petani pada 16 kabupaten.

Terobosan penanaman jagung di musim kemarau ini adalah sebuah langkah maju, dimana tidak pernah sebelumnya ada program pemerintah NTT yang berani menanam pada musim seperti ini.

Jika program ini berhasil, maka setidaknya bisa memberikan kontribusi terhadap pangan NTT nanti, katanya.

Mengenai kesiapan sumber daya air, tentu tidak bisa menanam tanpa ketersediaan air karena itu, syarat teknis harus ketat yaitu salah satunya adalah, identifikasi calon petani dan calon lahan (CPCL) yang harus cermat dimana lahan harus memiliki sumber air.

Selain itu, lahan yang di sasar adalah lahan sawah yang tersedia air yang terbatas untuk menanam padi tetapi masih bisa untuk menanam jagung.

Lainnya adalah, lahan-lahan yang tersedia sumber air tanah atau air permukaan tetapi perlu difasilitasi dengan pompa, katanya menambahkan. 

 
Pewarta :
Editor: Kornelis Aloysius Ileama Kaha
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar