NTT cetak 400 hektare sawah baru

id Sawah

Dua anggota TNI-AD wilayah Korem 161/Wirasakti Kupang bersama masyarakat menanam padi saat tanam padi serentak di desa Nunkurus, Kabupaten Kupang, NTT (Foto ANTARA/ Kornelis Kaha)

Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam tahun ini hanya mendapat alokasi anggaran dari pemerintah pusat untuk membuka sawah baru seluas 400 hektare, atau menurun jika dibanding dua tahun sebelumnya di atas 1.500 hektare.
Kupang (AntaraNews NTT) - Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam tahun ini hanya mendapat alokasi anggaran dari pemerintah pusat untuk membuka sawah baru seluas 400 hektare, atau menurun jika dibanding dua tahun sebelumnya di atas 1.500 hektare.

"Tahun ini hanya 400 hektare. Memang alokasi anggaran untuk pembukaan sawah baru pada tahun 2018 ini terbatas sehingga alokasi untuk tiap provinsi juga dikurangi," kata Kepala Bidang Penyuluhan Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian Provinsi NTT, Yos Umbu Wanda kepada Antara di Kupang, Selasa.

Dia mengatakan, kegiatan pembukaan sawah baru belum bisa dimulai karena belum ada kontrak dengan TNI Angkatan Darat sebagai pelaksana di lapangan. "Kami masih koordinasi dengan TNI untuk percepatan kontrak, karena kita ingin pelaksanaan di lapangan bisa secepatnya dimulai," katanya.

Menurut dia, pengalaman selama ini, kegiatan di lapangan selalu terlambat sehingga realisasi fisik tidak tercapai dari apa yang sudah ditetapkan pemerintah pusat. Pada tahun 2017 lalu misalnya, semula pemerintah memberikan jatah pembukaan sawah baru untuk NTT seluas 1.500 hektare.

Namun dalam perjalanan direvisi lagi menjadi 667 hektare saja. Itupun hanya terealisasi seluas 446 hektare, katanya menambahkan. "Memang selalu ada kendala di lapangan, sehingga banyak waktu tersita untuk menyelesaikan masalah," katanya.

Disamping itu, ada juga masalah teknis seperti ketersediaan air sehingga harus mencari lokasi yang baru.

"Memang sudah dilakukan survei dan desain, tetapi kami juga tetap menyesuaikan dengan kondisi di lapangan, karena pada musim kemarau misalnya, sumber-sumber air umumnya mengering dan tidak mungkin dipaksakan untuk menanam," katanya menambahkan. 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar