Selasa, 26 September 2017

Masyarakat Belu Rindukan Rotiklot

id Rotiklot
Masyarakat Belu Rindukan Rotiklot
Bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu, NTT yang sedang dalam pengerjaan. (Foto ANTARA/Kornelis Kaha)
"Ini sebuah kerinduan yang dalam dari masyarakat kami di sini yang saat ini sedang diterpa badai kekeringan akibat kemarau panjang tahun ini," kata Willybrodus Lay.
Kupang (Antara NTT) - Masyarakat Belu di wilayah perbatasan RI-Timor Leste sangat mengharapkan agar pembangunan Bendungan Rotiklot segera selesai agar bisa mengatasi masalah kekeringan serta menjadi sumber air kehidupan bagi masyarakat setempat.

"Ini sebuah kerinduan yang dalam dari masyarakat kami di sini yang saat ini sedang diterpa badai kekeringan akibat kemarau panjang tahun ini," kata Bupati Belu Willybrodus Lay ketika dihubungi Antara dari Kupang, Senin, terkait progres pembangunan Bendungan Rotiklot dalam upaya mengatasi kekeringan di wilayah perbatasan RI-Timor Leste.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur merilis bahwa Kabupaten Belu, termasuk di antara sembilan kabupaten dari 22 kabupaten/kota di provinsi berbasis kepulauan ini masuk dalam daftar Darurat Kekeringan.

Kabupaten lain di NTT yang masuk dalam daftar Darurat Kekeringan tersebut adalah Flores Timur, Rote Ndao, Timor Tengah Selatan, Malaka, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya dan Sabu Raijua.

Bendungan Rotiklot di wilayah perbatasan itu sendiri merupakan salah satu bendungan dari tujuh bendungan yang menjadi konsen dari Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengatasi masalah air baku di NTT.

Hingga saat ini baru dua bendungan yang sedang dikerjakan yakni Raknamo di Kabupaten Kupang serta Rotiklot di Kabupaten Belu. Sedang, Bendungan Napungete di Kabupaten Sikka dalam proses pengerjaan, dan sisanya masih dalam kajian lapangan.

Willybrodus Lay mengatakan Bendungan Rotiklot sendiri nantinya memiliki peran yang besar bagi masalah pertanian di kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara bekas koloni Portugis serta provinsi ke-27 Indonesia itu.

"Kami berterima kasih kepada bapak Presiden (Joko Widodo), karena telah membangun bendungan ini yang nantinya akan sangat membantu masalah pertanian di daerah tersebut dan tentunya sangat penting mengatasi masalah kekurangan air bersih jika musim kemarau tiba," ujarnya.

Pembangunan bendungan Raotiklot tersebut dimulai pada akhir 2015 dengan menggunakan dana APBN sebesar Rp470 miliar.

Daya tampung bendungan Rotiklot sendiri mencapai 3,3 juta kubik. Dengan jumlah sebanyak itu, nantinya dapat dialirkan untuk air baku serta pengairan sawah serta irigasi teknis di Kabupaten Belu dan sekitarnya.

Untuk air irigasi dan pengairan sawah kurang lebih 140 hektare yang dapat dialiri, sementara untuk air baku mencapai 40 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi masyarakat setempat.

Editor: Laurensius Molan

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga