Kupang, NTT (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,39 persen pada Maret 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,41.

“Secara tahunan, NTT mengalami inflasi 2,40 persen lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 3,42 persen,” kata Kepala BPS Provinsi NTT Matamira B. Kale di Kupang, Rabu.

Adapun inflasi tertinggi terjadi di Waingapu sebesar 2,88 persen dengan IHK sebesar 112,33 dan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Ngada sebesar 1,51 persen dengan IHK sebesar 109,13.

Dia menjelaskan inflasi tahunan di NTT terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 8 dari 11 indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,11 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 0,22 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,56 persen.

Selain itu, juga terjadi kenaikan pada kelompok kesehatan sebesar 1,70 persen, kelompok transportasi sebesar 2,15 persen; kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 0,64 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,16 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 20,44 persen.

Sementara untuk kelompok yang mengalami penurunan indeks harga, yaitu kelompok perlengkapan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,06 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,64 persen dan kelompok pendidikan sebesar 2,29 persen pada Maret 2026.

Matamira juga mengatakan NTT mengalami inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,25 persen pada Maret 2026, dan terjadi inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 1,35 persen pada Maret 2026.

Ia menjelaskan inflasi bulanan tersebut terjadi karena kenaikan indeks harga pada 6 dari 11 kelompok pengeluaran.

Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi bulanan (mtm), antara lain angkutan udara, ikan tembang, bahan bakar rumah tangga, cabai rawit, dan cabai merah.

Adapun komoditas bahan bakar rumah tangga mengalami peningkatan pada Maret, khususnya di Kota Kupang, terjadi akibat kelangkaan LPG.

“Tarif angkutan udara meningkat 0,06 persen karena tingginya permintaan pada Maret, seiring libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri,” kata dia.