Inflasi triwulan II/2019 di NTT belum stabil

id James Adam

Pengamat ekonomi Dr James Adam. (ANTARA Foto/ist)

Inflasi di NTT pada triwulan II/2019 masih belum stabil, karena kondisi musim hujan masih terus berlangsung hingga memasuki tahun baru Imlek 2019.
Kupang (ANTARA News NTT) - Pengamat ekonomi dari International Fund for Agricultural Development (IFAD)  Dr James Adam memprediksi kondisi inflasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada triwulan II/2019 masih belum stabil.

"Hal ini terjadi karena kondisi musim hujan masih terus berlangsung, dan diperkirakan akan terus berlangsung sampai memasuki tahun baru Imlek 2019," katanya kepada Antara di Kupang, Selasa (22/1), terkait kondisi inflasi di NTT.

Ia mengatakan dalam kurun waktu musim hujan tersebut kebutuhan akan bahan pokok juga terus meningkat, sehingga sangat berpengaruh terhadap perkembangan inflasi.

James Adam memperkirakan permintaan komoditas ayam dan telur pasti akan meningkat menjelang perayaan Imlek 2570 sehingga bisa memicu terjadinya inflasi.

"Saya kira kedua komoditas tersebut selalu berpengaruh positif terhadap kenaikan inflasi," katanya menjelaskan.

Ia mengatakan pada musim penghujan seperti saat ini, kebutuhan bahan pokok juga bertambah, sementara pasokan berkurang akibat cuaca buruk yang menghadang pelayaran kapal dari Surabaya menuju Kupang.

Sebagian besar kebutuhan pokok untuk masyarakat NTT didatangkan dari Surabaya. "Dengan adanya musim hujan diyakini dapat mengganggu pasokan kebutuhan pokok, dan kemungkinan beberapa komoditas pasti akan langka di pasaran," katanya.

Baca juga: Inflasi triwulan I diperkirakan 2,30-2,70 persen

Bank Indonesia Perwakilan NTT memperkirakan indeks harga konsumen di daerah ini mengalami inflasi pada kisaran 2,30-2,70 persen secara year on year (YoY) pada triwulan I tahun 2019.

"Terjaganya inflasi tersebut diperkirakan akibat turunnya harga komoditas bahan makanan pasca kenaikan yang cukup tinggi pada akhir tahun 2018," kata Kepala Unit Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT Krisna Setioaji di Kupang, Kamis (17/1).

Pihaknya mencatat sejumlah komoditas seperti ayam ras, telur ayam ras, ikan segar, bumbu-bumbuan serta sayur-sayuran mengalami kenaikan harga cukup tinggi saat memasuki akhir tahun 2018.

Sementara itu, tarif angkutan udara pada triwulan I/2019 diperkirakan mengalami inflasi meskipun masih relatif stabil yang didukung peningkatan frekuensi penerbangan yang masih normal di provinsi setempat.

Menurut Krisna Setioaji, potensi risiko inflasi yang perlu diwaspadai pada triwulan I/2019 yaitu faktor cuaca ekstrim seperti hujan lebat disertai angin kencang serta gelombang tinggi.

Ia mengatakan curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan produksi ternak seperti ayam dan telur berkurang karena ketahanannya menurun, selain pasokan bibit dari daerah lain yang terhambat tinggi gelombang laut.

Baca juga: Inflasi di NTT selama 2018 masih tetap rendah
Baca juga: NTT alami inflasi setelah empat bulan deflasi
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar