Tornado sapu belasan tambak garam di Sabu Raijua

id TORNADO

Tornado sapu belasan tambak garam di Sabu Raijua

Angin Tornado memporak-porandakan tambak garam di Pulau Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, NTT. (ANTARA Foto/Bernadus TOKAN)

Angin Tornado dilaporkan melanda pesisir pantai Pulau Raijua di Kabupaten Sabu Raijua, NTT dan menghancurkan belasan hektare tambak garam milik petani nelayan di wilayah itu.
Kupang (ANTARA) - Angin Tornado dilaporkan melanda pesisir pantai Pulau Raijua di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan menghancurkan belasan hektare tambak garam milik petani nelayan di wilayah itu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sabu Raijua, Javid Ndu Ufi kepada Antara melalui pesan WhatsAAp, Sabtu (2/3) mengakui angin Tornado telah melanda wilayah itu pada Jumat, (1/3), dan merusak 11 hektare tambak garam.

"Berdasarkan laporan sementara dari Camat Raijua, ada 11 hektare tambak garam yang mengalami kerusakan serius akibat terjangan angin Tornando itu," katanya menjelaskan.

Menurut dia, kronologis kejadian yaitu pada Jumat (1/3), angin Tornado datang dari Selat Raijua sekitar pukul 11.45 WITA disertai hujan deras dan angin kencang.

Saat hujan mulai redah pada sekitar pukul 12.30 WITA, angin Tornado bergerak ke darat, dan memporakporankan tambak garam milik rakyat yang dilalui.

"Tornado bergerak ke darat tetapi tidak melewati pemukiman petani rumput laut di pesisir pantai, sehingga hanya memporakporandakan tambak garam yang dilaluinya," katanya.

Dia mengatakan, petugas belum bisa dikirim ke lokasi karena cuaca di perairan laut tidak mendukung.

BPBD, kata dia, hanya melakukan koordinasi dengan camat untuk mendapatkan laporan sementara mengenai kejadian itu.

"Jika situasi sudah membaik, maka kami akan mengirim petugas ke lokasi untuk mengecek kondisi di lapangan, sekaligus melakukan pendataan kembali," katanya. 

Baca juga: TNI merehab rumah korban puting beliung
Baca juga: Pemprov NTT bantu seng & kayu untuk korban puting beliung

 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar