Semua pihak diminta menunggu pengumuman dari KPU

id rektor undana,pengumuman KPU

Rektor Undana Prof Fredrik Benu (kiri) mengenakan baju putih. (ANTARA FOTO/Ist)

"Kita tunggu pengumuman resmi dari KPU saja, sebagai lembaga penyelenggara pemilu," katanya kepada Antara terkait hasil Pilpres 2019.
Kupang (ANTARA) - Rektor Universitas Negeri Nusa Cendana (Undana) Kupang Prof Ir Fredrik Benu mengharapkan semua pihak untuk menunggu hasil resmi Pemilu Presiden 2019 yang akan diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Kita tunggu pengumuman resmi dari KPU saja, sebagai lembaga penyelenggara pemilu," katanya kepada Antara di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (18/4), terkait hasil Pilpres 2019.

Fredrick Benu mengatakan dirinya tidak ingin memberikan pendapat soal masalah politik karena bukan keahliannya.

"Saya bukan ahli politik. Jadi saya tidak ingin berpendapat soal politik, tetapi saya hanya bersyukur bahwa pesta demokrasi telah berjalan dengan baik," katanya.

Dalam pesta demokrasi yang berlangsung pada Rabu, (17/4), rakyat juga berpartisipasi dalam pesta demokrasi dengan antusias.

Mengenai hasil, dia mengatakan, kurang paham soal politik, apalagi kedua kubu punya pendapat sendiri-sendiri.

Baca juga: Capres Jokowi bakal mendulang suara lebih dari 80 persen di NTT

Secara terpisah, akademisi dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Mikhael Bataona, MA, menilai hal yang perlu dihindari saat ini adalah, jangan lagi ada yang menempatkan diri sebagai pihak yang dizalimi atau menuduh dicurangi.

Alasannya karena sikap tersebut sesungguhnya hanya playing victim untuk mendapat simpati, dan memprovokasi masyarakat yang sebenarnya sejak Rabu, (17/4) petang sudah menerima hasil pilpres ini.

"Jangan sampai juga masyarakat menertawakan elit-elitnya yang sengaja buta, meskipun di belakang sana sebenarnya sudah tahu bahwa hasil tersebut benar, sambil menunggu hasil 'real count' dari KPU," kata Bataona. 

Baca juga: Klaim kemenangan Pilpres berpotensi timbulkan konflik
Baca juga: Jangan kotori hasil Pilpres dengan narasi provokatif
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar