Inflasi triwulan II/2019 diperkirakan meningkat

id inflasi

Kantor Bank Indonesia Nusa Tenggara Timur di Jalan Raya El Tari Kupang.(ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)

Hasil kajian ekonomi dan keuangan regional Provinsi NTT yang dilakukan Bank Indonesia memperkirakan inflasi pada triwulan II/2019 di wilayah provinsi berbasis kepulauan ini meningkat dibanding triwulan I/2019.
Kupang (ANTARA) - Hasil kajian ekonomi dan keuangan regional Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dilakukan Bank Indonesia di Kupang, Rabu (15/5), memperkirakan inflasi pada triwulan II tahun 2019 di wilayah provinsi berbasis kepulauan ini meningkat dibanding triwulan I/2019.

Kondisi meningkatnya inflasi itu seiring pula dengan meningkatnya permintaan masyarakat pada momentum menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN) seperti Idul Fitri 1440 Hijriyah, terutama pada bahan makanan dan transportasi.

Menurut Bank Indonesia, tekanan harga pada triwulan II 2019 diperkirakan berada pada kisaran inflasi nasional 3,5 persen atau kurang lebih 1,0 persen yakni pada rentang 2,50-2,90 persen (yoy).

Komoditas bahan makanan yang berpotensi mengalami kenaikan cukup tinggi pada triwulan II, terutama daging ayam ras, telur ayam ras, ikan segar, bumbu-bumbuan serta sayur-sayuran sebagaimana pola historis. Adapun beras diperkirakan masih cukup stabil seiring pasokan yang terus dijaga melalui kebijakan Bulog.

Selain itu, tarif angkutan udara juga diperkirakan mengalami inflasi seiring permintaan masyarakat yang meningkat di tengah frekuensi penerbangan yang cenderung tidak bertambah sejak awal tahun ini.

Adapun resiko kenaikan tarif angkutan udara dari sisi bahan bakar diperkirakan cukup rendah, seiring minyak global yang cukup stabil sehingga menjadi faktor penahan inflasi. Potensi risiko inflasi yang perlu diwaspadai pada triwulan II/2019 adalah anomaly cuaca terutama gelombang tinggi.

Baca juga: Inflasi di NTT berada di bawah satu persen

Gelombang laut yang tinggi dapat menyebabkan inflasi ikan laut seperti tongkol, kembung dan ekor kuning seiring terhambatnya aktivitas melaut nelayan di tengah permintaan yang semakin meningkat. Selain itu, pasokan bahan makanan dari daerah lain juga berpotensi terhambat seiring adanya gelombang tinggi.

Potensi risiko lain yang perlu diwaspadai adalah momen Pemilu yang berada pada periode triwulan yang sama dengan HBKN Idul Fitri, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan melebihi dari rata-rata periode triwulan yang sama tahun-tahun sebelumnya.

Seiring tingginya kebutuhan persiapan Pemilu seperti komoditas konsumsi dan perlengkapan penunjang yang dilanjutkan dengan permintaan konsumsi menjelang HBKN Idul Fitri, demikian Bank Indonesia. 

Baca juga: Inflasi triwulan II/2019 di NTT belum stabil
Baca juga: BPS: Inflasi di NTT masih terkendali
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar