Gempa Lembata dibangkitkan deformasi batuan

id Gempa

Foto ilustrasi gempa bumi di Lembata. (ANTARA FOTO/Ridwan Triatmodjo)

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar naik (thrust fault).
Kupang (ANTARA) - Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar naik (thrust fault).

"Dugaan kuat sesar aktif yang menjadi pembangkit gempa bumi ini adalah subduksi lempeng Indo-Australia yang menghujam di bawah lempeng Eurasia," kata Kepala BMKG Kampung Baru Kupang, Robert Owen Wahyu, di Kupang, Senin (17/6) terkait gempa di Lembata.

Hasil analisis BMKG menunjukkan, informasi awal gempa bumi ini berkekuatan M=5,6 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi M=5,4.

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,94 LS dan 123,01 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 68 km arah selatan Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur pada kedalaman 118 km.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat aktivitas subduksi.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi di wilayah Laut Sawu ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar naik (thrust fault)," katanya.

Guncangan gempa bumi ini dilaporkan dirasakan di daerah Lembata, Ende dengan intensitas III-IV MMI, Waingapu, Larantuka, Alor II-III MMI,Kupang, Rote I-II MMI. Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.

Dan, hasil pemodelan juga menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi tsunami. Warga pun diimbau untuk tetap mengamtisipasi kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Baca juga: Sumba Barat kembali diguncang gempa berskala 5.3 SR
Baca juga: NTT rentan terhadap bencana gempa bumi
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar