NTT masih nikmati subsidi perintis udara selama 2020

id perintis udara di ntt

NTT masih nikmati subsidi perintis udara selama 2020

Kepala Dinas Perhubungan NTT Isyak Nuka. (ANTARA/Bernadus Tokan)

"Kita bersyukur karena NTT dalam tahun ini masih mendapat subsidi dari pemerintah untuk penerbangan perintis, seperti tahun 2019," kata Isyak Nuka...
Kupang (ANTARA) - Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2020 ini masih mendapat bagian dari subsidi perintis udara, terutama dalam melayani delapan rute penerbangan di wilayah provinsi berbasis kepulauan ini.

"Kita bersyukur karena NTT dalam tahun ini masih mendapat subsidi dari pemerintah untuk penerbangan perintis, seperti tahun 2019," kata Kepala Dinas Perhubungan NTT Isyak Nuka kepada Antara di Kupang, Selasa (14/1).

Dia menjelaskan subsidi perintis di NTT dalam tahun 2020 ini masih sama dengan pada 2019, yakni untuk delapan rute penerbangan yang dilayani maskapai penerbangan Susi Air.

Kedelapan rute penerbangan yang mendapat subsidi itu, adalah Kupang-Kisar (pergi pulang), Kupang-Sabu- Ende, Kupang-Waingapu-Ruteng, dan Kupang-Sabu-Waingapu.

Mengenai maskapai, dia mengatakan, masih dalam proses tender dan belum ada penetapan maskapai mana yang akan melayani rute penerbangan perintis di wilayah NTT dalam tahun 2020.
Para penumpang sedang berjalan menuju pesawat Susi Air saat berada di Bandara El Tari Kupang. (ANTARA/Bernadus Tokan)

"Kita tunggu saja. Sekarang masih dalam proses lelang untuk menentukan operator yang nantinya akan melayani rute penerbangan perintis tersebut," katanya.

Isyak Nuka menambahkan kehadiran angkutan perintis bersubsidi itu penting karena membantu masyarakat, untuk menghubungkan daerah terpencil dan tertinggal atau daerah yang belum terlayani moda transportasi lain.

"Penerbangan perintis penumpang adalah pelayanan penerbangan dalam rangka membantu masyarakat, dengan cara menyubsidi biaya operasional pesawat terbang pada rute-rute angkutan udara perintis sesuai kriteria yang tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 79 Tahun 2017," katanya.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar