Bupati Ngada Ikut Bertarung Dalam Pilgub NTT

id Marianus

Bupati Ngada Marianus Sae

"Keputusan untuk maju bertarung dalam arena Pilgub NTT tersebut, karena dorongan yang kuat dari masyarakat. Atas dasar aspirasi tersebut, saya kemudian memutuskan untuk maju," kata Marianus Sae.
Kupang (Antara NTT) - Bupati Ngada Marianus Sae akhirnya memutuskan untuk maju bertarung dalam arena Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur pada Juni 2018 sebagai kandidat gubernur untuk periode 2018-2023.

"Keputusan untuk maju bertarung dalam arena Pilgub NTT tersebut, karena dorongan yang kuat dari masyarakat. Atas dasar aspirasi tersebut, saya kemudian memutuskan untuk maju," katanya kepada wartawan di Kupang, Selasa.

Marianus Sae, akan mengakhiri masa jabatan kedua sebagai Bupati Ngada pada 2020. Namun, karena dorongan kuat dari masyarakat itu lah yang mendongkrat semangatnya untuk maju dalam ajang politik lima tahunan itu.

Pada mulanya, kata mantan Ketua DPC PAN Kabupaten Ngada yang diberhentikan melalui Musda itu, tidak memiliki niat sedikit pun untuk bertarung dalam ajang Pilgub NTT, namun dalam perjalanan arus desakan dari warga itu terus menguat sehingga membuatnya harus menjatuhkan pilihan untuk merebut kursi nomor 1 di provinsi berbasis kepulauan itu. 

"Saat saya masih berada di Vietnam dalam sebuah tugas, saya terus didesak masyarakat untuk maju dan setelah kembali saya lalu berkonsultasi dengan sejumlah tokoh dan akhirnya memutuskan untuk maju," kata Marianus Sae.

Saat ini, ia terus membangun komunikasi politik dengan sejumlah partai politik sebagai kendaraan politik yang akan mengusungnya sebagai bakal calon Gubernur NTT menggantikan Frans Lebu Raya yang sudah dua periode memimpin Nusa Tenggara Timur hingga Juni 2018.

"Saya sudah masukan sejumlah formulir pendaftaran ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai partai pengusung dalam Pilgub NTT 2018," ujar Marianus Sae yang terkenal dengan tindakan kontroversinya melarang Merpati Nusantara Airlines (MNA) mendarat di Bandara SoA, Bajawa.

Namun, untuk mengusungnya sebagai bakal calon Gubernur NTT, PKB harus membangun koalisi dengan parpol lainnya, karena hanya memiliki 5 kursi di DPRD NTT.

Syarat yang ditetapkan KPU NTT bagi setiap calon yang maju menjadi orang nomor 1 di NTT, harus memiliki 13 kursi di DPRD NTT. Dengan demikian, PKB harus mengejar lagi delapan kursi dari parpol lain agar bisa mengusung Marianus Sae sebagai bakal calon gubernur.

"Semua partai tentunya menjadi partai terbuka dan karena itu kami akan terus lakukan komunikasi untuk kepentingan pengusungan kami nanti," katanya dan menambahkan akan segera mengumumkan calon pendampingnya setelah koalisi parpol mencapai kata sepakat. 

Ketua DPW PKB NTT Yucundianus Lepa yang dikonfirmasi secara terpisah mengatakan partai yang dipimpinnya sudah menjatuhkan pilihan kepada Marianus Sae sebagai bakal calon Gubernur NTT, karena memiliki keunggulan lebih dalam membangun daerah seperti yang dirasakan masyarakat Kabupaten Ngada saat ini.

Progres capaian Marianus Sae dalam memimpin Kabupaten Ngada hingga di periode kedua yang sedang berjalan melalui Program Perak, dinilai sangat sukses membangun sistem di daerah dingin di lembah Pulau Flores itu sangat mumpuni.

Sistem pertanian lahan kering dengan mengembangkan sistem agro forestri seperti yang dilaksanakan Marianus Sae saat ini sangat cocok untuk dikembangkan di hampir seluruh daerah di NTT.

Keberhasilannya dalam membangun sistem pertanian inilah mendorong PKB menyatakan dukungan politiknya terhadap Marianus Sae untuk maju dalam arena Pilgub 2018.

Hingga saat ini, partai-partai lain sudah menjagokan kandidatnya masing-masing untuk diusung dalam ajang Pilgub NTT, namun masih harus berkoalisi agar bisa mencapai persyaratan 13 kursi. Semua parpol di NTT saat ini, tidak memenuhi syarat untuk mencalonkan langsung pasangannya masing-masing, karena tak satu pun meraih 13 kursi.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar