Dinkes Gelar Aksi "Ketuk Pintu" Deteksi TBC

id TBC

Dinkes Gelar Aksi "Ketuk Pintu" Deteksi TBC

Sri Wahyuningsih

"Kami sudah lakukan aksi pencegahan ini dengan mengetuk pintu warga sejak 2016, dan hasilnya cukup efektif," kata Sri Wahyuningsih.
Kupang (Antara NTT) - Dinas Kesehatan Kota Kupang menggelar aksi ketuk pintu ke rumah warga di wilayah ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur ini untuk mendata dan mendeteksi kemungkinan warga terserang penyakit tuberkulolis (TBC atau TB).

"Kami sudah lakukan aksi pencegahan ini dengan mengetuk pintu warga sejak 2016, dan hasilnya cukup efektif," kata Kepala Bidang Penanggulangan dan Pengamatan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kupang Sri Wahyuningsih kepada Antara di Kupang, Selasa.

Dia mengatakan gerakan yang dilakukan secara bersama dan terintegrasi oleh kader dan petugas kesehatan di setiap wilayah kerja itu dimaksudkan untuk mendapatkan para penderita aktif untuk langsung didata dan diberikan pengobatan intensif.

Dari hasil gerakan tersebut, secara grafik menunjukkan angka partisipasi masyarakat khususnya penderita TB cukup baik, dengan secara mandiri melakukan pemeriksaan dan pengobatan rutin melalui sarana kesehatan di wilayah masing-masing dalam hal ini di 11 puskesmas yang tersebar di 51 kelurahan dan enam kecamatan daerah ini.

Jumlah penderita TB yang diobati selama periode 2016-2017 sebanyak 1.240 orang, yang merupakan akumulasi dari tahun 2016 sebanyak 861 penderita serta 375 penderita hingga Juni 2017.

Ia mengatakan jika dalam aksi ini, warga masyarakat ditemukan positif TB, maka pengobatannya dapat dilakukan secara cepat selama enam bulan. Pengobatan ini juga akan efektif dan bisa sembuh jika penderita bisa berkomitmen untuk pelaksanaan pengobatan itu secara rutin.

"Jika tidak diobati maka dampak penularannya pun akan semakin cepat karena penularan TBC sangat mudah melalui batuk, bersin dan lendir yang dibuang sembarangan," katanya.

Jika terputus satu hari saja, maka harus diulang tahapan pengobatannya selama enam bulan lagi secara berturut-turut. Dan dalam masa pengobatan itu, di tahapan tiga bulan pengobatan akan dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui kerja kuman dalam tubuh.

Dia menjelaskan, tuberkulosis (tuberculosis) atau TBC atau TB (Tubercle bacillus) merupakan penyakit menular yang umum, dan dalam banyak kasus bersifat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria, umumnya mycobacterium tuberculosis (disingkat MTb atau MTbc).

Penyebarannya melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin atau menyebarkan butiran ludah mereka melalui udara. Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatik dan laten. Namun hanya satu dari sepuluh kasus infeksi laten yang berkembang menjadi penyakit aktif.

Gejala klasik infeksi TB aktif yaitu batuk kronis dengan bercak darah sputum atau dahak, demam, berkeringat di malam hari dan berat badan turun. "Dahulu TB disebut penyakit konsumsi karena orang-orang yang terinfeksi biasanya mengalami kemerosotan berat badan," katanya.

Infeksi pada organ lain menimbulkan gejala yang bermacam-macam. Diagnosis TB aktif bergantung pada hasil radiologi (biasanya melalui sinar-X dada) serta pemeriksaan mikroskopis dan pembuatan kultur mikrobiologis cairan tubuh. Sementara itu, diagnosis TB laten bergantung pada tes tuberkulin kulit/tuberculin skin test (TST) dan tes darah.

Pengobatan sulit dilakukan dan memerlukan pemberian banyak macam antibiotik dalam jangka waktu lama. Orang-orang yang melakukan kontak juga harus menjalani tes penapisan dan diobati bila perlu.

Resistensi antibiotik merupakan masalah yang bertambah besar pada infeksi tuberkulosis resisten multi-obat (TB MDR). Untuk mencegah TB, semua orang harus menjalani tes penapisan penyakit tersebut dan mendapatkan vaksinasi basil Calmette Gurin.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2021