Epidemiologi: Perlu pengawasan terhadap masyarakat penerima layanan di Rumah Sakit

id ahli epidemiologi,ntt,vaksin

Epidemiologi: Perlu pengawasan terhadap masyarakat penerima layanan di Rumah Sakit

Ahli epidemiologi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur Dr. Pius Weraman (ANTARA/Bernadus Tokan)

...Harus ada peningkatan pemantauan dan pengawasan terhadap  masyarakat yang menerima layanan di rumah sakit, karena dalam situasi peningkatan kasus Covid-19 di rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya
Kota Kupang (ANTARA) - Ahli epidemiologi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur Dr. Pius Weraman mengatakan, perlu peningkatan pemantauan dan pengawasan terhadap masyarakat yang menerima layanan di rumah sakit.

"Harus ada peningkatan pemantauan dan pengawasan terhadap  masyarakat yang menerima layanan di rumah sakit, karena dalam situasi peningkatan kasus Covid-19 di rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya," kata Pius Weraman, di Kupang, Senin.

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan terus meningkatnya kasus Covid-19 dan adanya kerumunan warga pada pusat-pusat pelayanan kesehatan untuk memperoleh vaksin.

"Ketakutan ini tentunya membuat masyarakat harus berusaha mencari perlindungan dengan memanfaatkan vaksin," katanya. 

Menurut dia, tenaga kesehatan (nakes) sebagai garda terdepan (front liner) merupakan kelompok risiko tinggi terpapar penularan virus SARS-CoV-2 walaupun mereka telah mendapat vaksinasi lengkap.

Menurut dia, perlu kewaspadaan ektra ketat bagi tenaga kesehatan karena akan menimbulkan klaster baru di rumah sakit atau Puskesmas yang dapat berdampak penularan lebih luas yang tak terkendali. 

Saat ini pemerintah sedang merencanakan untuk vaksinasi ketiga untuk kelompok rentan (keadaan darurat), sangat tergantung kebijakan dari setiap negara untuk mengatasi pandemik ini. 

Setiap negara mempunyai masalah berbeda dan perlu menentukan rencana mengenai pemberian vaksinasi ketiga ini, katanya menambahkan.  

Tetapi The Joint Committee on Vaccination and Immunization (JCVI-UK) menganjurkan pemberian suntikan ketiga pada musim tertentu  kepada kelompok rentan yaitu, dewasa berumur 18 tahun yang menderita imunokompromais atau secara klinis sangat rentan tertular.

Kelompok ini seperti, Lansia berumur sekitar 70 tahun, termasuk mereka yang tinggal di panti wreda, Front-line health (garda terdepan, nakes) yang berhubungan dengan pasien Covid-19 dan pekerja sosial yang merawat kelompok rentan

Kelompok yang mendapat perhatian utama adalah tenag kesehatan karena, masalah yang dihadapi oleh para nakes harus segera diatasi.

"Imunitas para nakes perlu segera ditingkatkan, Vaksinasi booster kepada para nakes diberikan pada 3-6 bulan dari vaksinasi pertama, Vaksin booster dapat mempergunakan vaksin dari platform yang sama atau platform yang berbeda," katanya.

Pemberian vaksinasi booster segera dilakukan karena  mengingat telah terjadi penurunan imunitas setelah 6 bulan dari pemberian vaksin Sinovac dua kali, dan perlu pula direncanakan pemberian booster pada semua masyarakat.

Untuk vaksinasi booster pada semua masyarakat diperlukan perencanaan tersendiri dengan mengingat masalah logistik dan sumber daya manusia yang tersedia, dan dapat dilaksanakan setelah 12 bulan dari vaksinasi pertama.

Sangat dibutuhkan penelitian penunjang untuk menentukan vaksinasi booster pada semua masyarakat secara massal, diperlukan penelitian pada nakes yang telah mendapat vaksinasi booster. 

Penelitian yang disarankan adalah, pemeriksaan titer antibodi anti  pada 2-4 minggu pasca vaksinasi booster, dilakukan secara random (mengingat sarana dan biaya). 

Pemantauan break-through of severe Covid-19 cases pada semua nakes yang mendapat vaksinasi booster, katanya menambahkan.
 
Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2022