Panama cari kuburan massal korban invasi AS tahun 1989

id panama,invasi as

Panama cari kuburan massal korban invasi AS tahun 1989

Anggota tim forensik menggali jenazah korban invasi AS pada 1989 di permakaman Monte Esperanza di Colon, Panama, Kamis (14/10/2021).

...Kami berencana terus melakukan penggalian dan melihat seberapa banyak kantong jenazah di sana
Panama City (ANTARA) - Sejumlah kantong jenazah telah dikeluarkan dari kuburan massal di Panama dalam upaya mencari korban jiwa akibat invasi AS di Panama pada 1989, kata pejabat setempat pada Kamis (14/10).

Operasi militer itu menelan jiwa 300 warga sipil dan menandai berakhirnya kediktatoran Jenderal Manuel Noriega.

Selama lima tahun, keluarga korban telah meminta pencarian jenazah kerabat mereka yang tewas, sebagian besar dimakamkan di kuburan massal.

Jaksa Agung Geomara Guerra mengatakan sejauh ini empat kantong jenazah telah ditemukan di permakaman Monte Esperanza di kota Colon.

"Kami berencana terus melakukan penggalian dan melihat seberapa banyak kantong jenazah di sana," kata dia kepada reporter.

Mayat-mayat itu ditemukan masih di dalam kantong yang sama yang didistribusikan tentara AS untuk pemakaman, kata dia.

Para pejabat tahun lalu mulai melakukan penggalian jenazah di permakaman lain bernama Jardin de Paz dan menemukan 30 jenazah tanpa identitas.

Penggalian lalu dihentikan akibat pandemi.

Organisasi-organisasi pejuang hak asasi manusia telah lama memperkirakan jumlah warga Panama yang menjadi korban sebenarnya melebihi angka resmi 300 orang.

Hal itulah yang mendorong Presiden Juan Carlos Varela untuk membentuk komisi untuk menyelidiki angka sebenarnya.

Baca juga: Anggota Angkatan Laut AS didakwa bocorkan rahasia kapal selam

Hanya 23 tentara AS kehilangan nyawa dalam peristiwa itu.

Baca juga: Taliban peringatkan AS tak terbangkan 'drone' ke Afghanistan

Invasi AS itu menjadi luka menganga bagi banyak warga Panama yang setiap tahun mengenang peristiwa itu. Mereka meminta agar setiap 20 Desember diperingati sebagai hari berkabung nasional. (Antara/Reuters)
Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2021