Nelayan perbatasan takut dimangsa buaya

id Buaya

Seekor buaya sedang memangsa tangan seseorang. (ANTARA Foto/ilustrasi)

"Para nelayan di sini sudah berhenti melaut, karena ada banyak buaya yang berkeliaran di perairan Pulau Batek dan sekitarnya. Mereka takut dimangsa buaya," kata Wemfied Komeo.
Netemnanu Utara, NTT (AntaraNews NTT) - Para nelayan di Desa Netemnanu Utara, Kecamatan Amfoang Utara, Kabupaten Kupang, NTT yang berbatasan dengan Distrik Oecusse-Ambeno, Timor Leste, berhenti melaut karena takut dimangsa buaya.

"Para nelayan di sini sudah berhenti melaut, karena ada banyak buaya yang berkeliaran di perairan Pulau Batek dan sekitarnya. Mereka takut dimangsa buaya," kata Kepala Desa Netemnanu Utara, Wemfied Komeo kepada wartawan di Netemnanu Utara, Minggu (7/10).

Ia menyebutkan jumlah nelayan di Netemnanu Utara sekitar 25 orang yang terhimpun dalam lima kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari lima orang.

Aktivitas penangkapan ikan, lanjutnya, selama ini hanya dilakukan di sekitar perairan dangkal atau pesisir karena hanya dilengkapi sarana perahu sampan yang dioperasikan secara manual.

Ia mengatakan, hasil tangkapan juga masih berupa ikan-ikan kecil seperti teri dan sardin, yang umumnya untuk konsumsi rumah tangga maupun dijual.

"Hanya saja sekarang semua sudah berhenti melaut karena banyak buaya berkeliaran di perairan dekat sehingga mereka takut," katanya.

Baca juga: 29 Warga Tewas Diserang Buaya

Menurutnya, kehadiran buaya di perairan setempat telah mencemaskan warga sekiranya karena sempat memakan korban sebanyak dua orang.

"Terakhir ada satu korban warga di sini yang diserang buaya dan di bawah ke perairan perbatasan hingga terdampar di Timor Leste lalu jenazahnya diantar ke sini," katanya.

Ia menambahkan, di desa tetangga sebelah juga sama, justru korbannya paling banyak sudah sekitar tiga atau empat orang yang dimangsa buaya.

Komeo menyatakan, akibat takut melaut maka sebagian besar nelayan setempat akhirnya beralih profesi menjadi petani.

Menurut dia, meskipun Desa Netemnanu Utara berada di pesisir laut, namun belum banyak warga yang berorientasi memanfaatkan laut sebagai sumber kehidupan.

"Rata-rata semuanya petani karena untuk melaut juga membutuhkan dukungan kapal, sedangkan di sini masih mengandalkan perahu sehingga hasil tangkapan tidak banyak dan belum menjanjinkan," katanya.

Baca juga: Selamatkan buaya berkalung ban
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar