Menjalin persahabatan melalui festival Fulan Fehan

id festival

Para penari Likurai sedang meliuk-liukkan badannya sambil memukul gendang (tebe) saat digelarnya Festival Fulan Fehan 2018 di Bukit Fulan Fehan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (6/10). (ANTARA Foto/Kornelis Kaha)

 "Kami berharap agar pada 2019 nanti akan ada lagi penampilan baru, seperti yang ditampilkan pada Festival Fulan Fehan kedua ini," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Sri Hartini.
Kupang (AntaraNews NTT) - Butuh perjuangan serta semangat yang kuat untuk bisa menyaksikan secara langsung puncak Festival Fulan Fehan 2018 yang diprakarsai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Platform Indonesiana.

Jarak tempuh dari Atambua, ibu Kota Kabupaten Belu menuju ke Gunung Lakaan, di Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang langsung berbatasan dengan Timor Leste kurang lebih satu setengah jam dengan jarak kurang lebih 40 kilometer.

Untuk bisa ke lokasi Festival Fulan Fehan 2018, pengunjung harus melewati tiga kecamatan di daerah itu yakni Tasifeto Timur, Kecamatan Lasiolat, serta Kecamatan Lamaknen.

Kondisi jalan memang tak seburuk seperti tahun 2017 lalu, ketika pertama kali digelarnya Festival Fulan Fehan yang kemudian berujung pada diraihnya rekor MURI dengan 6.000 penari "Likurai".

Kali ini kondisi jalan yang mulus, membuat perjalanan sepanjang 40 kilometer dan satu setengah jam perjalanan tak terasa, apalagi di sisi kanan dan kiri disuguhkan pemandangan yang menyejukan mata, namun ada jembatan yang masih dibangun, sehingga pengendara harus melewati kali dan membutuhkan kendaraan dobel gardan untuk bisa menanjak.

Pukul 12.00 WITA, beberapa penari mulai berdatangan. Untuk menuju ke puncak bukit Fulan Fehan memang membutuhkan tenaga, apabila tak menggunakan kendaraan. Atau apabila kendaraan yang digunakan tidak bisa melewati tanjakan yang sangat menanjak.

 "Sesuai jadwal jam 15.00 WITA, acaranya akan dimulai. Oleh karena itu datang lebih awal karena tak ingin terlambat," kata Maria Nahak salah satu guru yang membawa rombongan penarinya.

Suasana di puncak bukit Fulan Fehan atau yang biasa disebut dengan bukit "Teletubies" masih sepi saat pukul 12.00 WITA. Namun beberapa warga sudah mulai berjualan.

Baca juga: Fulan Fehan 2018 cerita tentang Rai Belu
Baca juga: Melestarikan Festival Foho Rai di Rai Belu
Para penari, baik penari Likurai maupun penari Antama (berburu) sedang melakukan gerakan menari saat berlangsungnya Festival Fulan Fehan 2018 di bukit Fulan Fehan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (6/10). (ANTARA Foto/Kornelis Kaha)
 Suasana berubah menjadi keramaian yang luar biasa. Dalam sekejam fulan fehan yang biasa digunakan untuk mengembalakan ternak, kini dipenuhi oleh ratusan orang yang ingin menyaksikan atraksi tarian Likurai yang menjadi budaya dari masyarakat Belu.

Tepat pukul 15.00 WITA sejumlah pejabat mulai berdatangan, di antaranya Bupati Belu Willy Lay, Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Sri Hartini, serta sejumlah pejabat lainnya.

Festival Fulan Fehan dengan tarian "Likurai" pun ditampilkan. Cuaca panas di puncak Fulan Fehan itu tak membuat para penari yang terdiri dari para pelajar SMP-SMA itu patah semangat.

Tanpa mengenakan alak kaki, gerakan-gerakan mereka membuat para pejabat Kementerian dan tamu undangan dari negara tetangga Timor Leste terkagum kagum.

Merayakan Persahabatan
Festival Fulan Fehan bisa dibilang sebagai tempat untuk mempertemukan semua masyarakat di kabupaten itu dari berbagai suku, untuk merayakan pesahabatan yang terjalin dengan baik.

Koregrafer Festival Fulan Fehan 2018 Eko Supriyanto dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mengatakan ada yang berbeda dari festival tahun 2018 itu.

Ia menambahkan tarian antama, tarian yang mengisahkan tentang perburuan hewan tangkapan yang sudah menjadi budaya dari masyarakat di Rai Belu itu.

Tarian ini dipadukan dengan tarian Likurai yang sudah melegneda selama ini. Di sela-sela tarian itu dipadukan juga dengan peragaan busana oleh para pelajar SMA dengan menampilkan kain tenun khas masyarakat Belu.

Dibandingkan tahun 2017, pada tahun kedua ini festival Fulan Fehan hanya menampilkan 1.500 penari di Kabupaten Belu tepatnya di Kecamatan Lamaknaen.

"Untuk Festival Fulan Fehan 2018 ini kami lebih fokuskan pada salah satu desa di Kecamatan Lamaknen, yaitu Desa Weluli, yang menceritakan tentang adat serta apa itu sebenarnya Fulan Fehan itu sendiri," ujarnya.

Ia menceritakan bahwa tarian antama sendiri adalah tarian yang mengajarkan tentang gotong royong masyarakat Belu dalam berburu hewan buruan.

Bupati Belu Willy Lay mengatakan melalui Festival Fulan Fehan dirinya ingin merajut persahabatan baik antara masyarakat sekitar dengan masyarakat Timor Leste.

Kami ?ingin merajut Indonesia dari perbatasan sekaligus membuat perbatasan ini jadi paling aman di dunia," tuturnya. Ucapannya itu terbukti dengan hadienya Bupati Halmahera, Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia serta sejumlah tamu undangan dari berbagai daerah di Indonesia.

Raja Dirun Alfons Deremali, menjelaskan antama sendiri sebenarnya tradisi turun temurun yang sudah dilakukan olah masyarakat di daerah itu. Sebanyak 38 suku di daerah itu akan dikumpulkan untuk dibuatkan ritual sebelum dilakukan Antama atau berburu.

Namun sayangnya tradisi ini kemudian perlahan-lahan mulai hilang sejak tahun 1990an. Sebab lahan perburuan sudah tak ada lagi akibat banyaknya pembangunan.

Dengan adanya festival ini, menurut saya dapat membantu generasi muda di sini untuk mengenal lebih dekat soal kebudayaan yang ada di sini," ujarnya.

Tampilan Baru
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengharapkan sesuatu yang baru dari Festival Fulan Fehan yang akan digelar tahun depan di bukit Fulan Fehan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

 "Kami berharap agar pada 2019 nanti akan ada lagi penampilan baru, seperti yang ditampilkan pada Festival Fulan Fehan kedua ini," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Sri Hartini.

Baca juga: Mengais rezeki dari kain tenun Belu
Baca juga: Festival Fulan Fehan-Foho Rai merawat budaya Belu
Para penari Antama (tarian berburu) sedang memperagakan tarian berburu saat digelarnya Festival Fulan Fehan 2018 di bukit Fulan Fehan, Kabupaten Belu, Sabtu (6/10).(ANTARA Foto/Kornelis Kaha)
 Hartini mengaku kagum dengan kebudayaan dari masyarakat Belu. "Saya yakin masih banyak kebudayaan masyarakat Belu yang bisa digali dan ditampilkan pada Festival Fulan Fehan 2019," katanya.

Dia mengemukakan, pemerintah daerah saat ini sudah dimintai untuk membuat Pokok-Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). Dari PPKD tersebut, pemda setempat dapat mulai mendata kebudayaan apa saja yang bisa ditampilkan dalam festival berikutnya.

Melalui PPKD itu pemda dapat menginventarisasi mulai dari pelestarian dan pembinaan, perlindungan pemanfaatan kebudayaan yang dimilki untuk kemudian dapat dijaga.

Dia juga berharap agar perkembangan kebudayaan di daerah dapat dikembangkan dengan bantuan dari komunitas kebudayaan atau pihak swasta yang memang konsen di bidang kebudayaan.

Ia menambahkan pada Kongres Kebudayaan di Jakarta pada Desember 2018 nanti, Pemkab Belu dapat menunjukkan kebudayaan baru agar bisa diperkenalkan tidak hanya secara nasional, tetapi juga internasional.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu Marsianus Loe mengatakan penyelenggaraan Festival Fulan Fehan dan Foho Rai memberikan ampak positif dalam upaya menjaga dan merawat budaya Belu.

Festival Foho Rai, misalnya, yang sudah digelar sebelum puncak Festival Fulan Fehan pada Juli lalu membuat masyarakat khususnya tokoh-tokoh adat di daerah ini ingin kembali menjaga apa yang diwariskan leluhur mereka.

Festival Foho Rai yang sudah digelar pada Juli lalu memang bertujuan untuk memanggil kembali masyarakat di daerah itu yang sudah meninggalkan kebudayaan asli Rai Belu yang akibat semakin berkembangnya dunia modern.

Foho Rai Festival yang digelar pada 3-21 Juli 2018 lalu merupakan sebutan bagi festival kampung adat yang digagas Indonesiana, sebuah program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya Direktorat Jenderal Kebudayaan, untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan ekosistem budaya.

"Kami merasa bersyukur karena berbagai kegiatan festival ini memberikan dampak yang sangat positif bagi masyarakat di sini," katanya.
Warga berjalan menuju puncak kegiatan festival Foho Rai di Kabupaten Belu. (ANTARA Foto/Anita P Dewi)
Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar