Festival Fulan Fehan-Foho Rai merawat budaya Belu

id FULAN FEHAN

Festival Fulan Fehan-Foho Rai merawat budaya Belu

Para penari, baik penari Likurai maupun penari Antama (berburu) sedang melakukan gerakan menari saat berlangsungnya Festival Fulan Fehan 2018 di bukit Fulan Fehan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (6/10). (ANTARA Foto/Kornelis Kaha)

"Ada banyak hal positif dari penyelenggaraan festival tersebut, karena membuat banyak tetua adat di Kabupaten Belu ramai-ramai kembali menjaga dan merawat kebudayaan yang ada," kata Marsianus Loe.
Kupang (AntaraNews NTT) - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu Marsianus Loe mengatakan penyelenggaraan Festival Fulan Fehan dan Foho Rai memberikan dampak positif dalam upaya menjaga dan merawat budaya Belu.

"Ada banyak hal positif dari penyelenggaraan festival tersebut, karena membuat banyak tetua adat di Kabupaten Belu ramai-ramai kembali menjaga dan merawat kebudayaan yang ada," katanya saat dihubungi Antara dari Kupang, Senin (8/10).

Ia mengatakan Festival Foho Rai, misalnya, yang sudah digelar sebelum puncak Festival Fulan Fehan pada Juli lalu membuat masyarakat khususnya tokoh-tokoh adat di daerah ini ingin kembali menjaga apa yang diwariskan leluhur mereka.

Festival Foho Rai yang sudah digelar pada Juli lalu memang bertujuan untuk memanggil kembali masyarakat di daerah itu yang sudah meninggalkan kebudayaan asli Rai Belu yang akibat semakin berkembangnya dunia modern.

Foho Rai Festival yang digelar pada 3-21 Juli 2018 lalu merupakan sebutan bagi festival kampung adat yang digagas Indonesiana, sebuah program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya Direktorat Jenderal Kebudayaan, untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan ekosistem budaya.

"Kami merasa bersyukur karena berbagai kegiatan festival ini memberikan dampak yang sangat positif bagi masyarakat di sini," tuturnya.
Para penari Likurai sedang meliuk-liukkan badannya sambil memukul gendang (tebe) saat digelarnya Festival Fulan Fehan 2018 di Bukit Fulan Fehan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (6/10). (ANTARA Foto/Kornelis Kaha)
Dampak positif lainnya juga adalah pada saat kegiatan Festival Fulan Fehan 2018, semakin banyak peserta yang ikut.

"Walaupun tahun ini hanya 1.500 peserta, namun untuk tarian Antama (tarian berburu) dari target 200 peserta yang ikut justru bertambah menjadi 386 peserta. Dan ini tentu hal yang sangat mengembirakan bagi kami," ujar Marsianus.

Pada awalnya ketika dilakukan pendataan di setiap sekolah, kata dia banyak yang menolak. Namun ketika sudah ada latihan bersama banyak anak-anak yang yang justru ingin ikut tampil.

Tak hanya itu, keberadaan berbagai festival yang diprakarsai oleh Kemendikbud itu kata dia juga membuat generasi muda di daerah itu tidak malu menggunakan tenun-tenun khas daerah itu yang mempunyai makna tersendiri. 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar