Spora EV ditunjuk sebagai salah satu bengkel konversi motor BBM ke listrik

id BBM, NTT,Kota Kupang SPORA EV,Bengkel SPORA EV,SPORA EV

Spora EV ditunjuk sebagai salah satu bengkel konversi motor BBM ke listrik

Bengkel Spora EV.

Konversi ini, sejatinya adalah merubah kendaraaan konvensional berbahan bakar bensin atau solar, menjadi kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV).
Kupang (ANTARA) - Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan menunjuk Spora EV sebagai salah satu bengkel yang bisa mengkonversi motor BBM jadi motor listrik.

 “Konversi kendaraan konvensional menjadi kendaraan listrik adalah satu satu strategi penting dalam menurunkan emisi karbon dan menurunkan subsidi BBM, karena  masih ada sekitar 140 juta kendaraan di jalan raya kita yang terus mengeluarkan emisi dan minum BBM setiap harinya,” kata  Founder-CEO Spora EV Triharsa Adicahya dalam keterangan yang diterima di Kupang, Senin (19/12).

Spora EV sendiri dinilai sebagai sebuah startup kendaraan listrik nasional yang berbasiskan kemampuan rancangan bangun kendaraan listrik, melihat bahwa program pemerintah ini sangat penting dan perlu didukung sehingga berhasil dan mencapai target yang telah ditetapkan.
 
Terkait dengan hal tersebut, pada Senin (19/12) Spora EV telah melakukan soft launching outlet khusus bengkel konversi sepeda motor di bilangan Bintaro Emerald, Tangerang Selatan.

Dengan alamat Ruko Emerald Boulevard Blok AA1 No.5, Parigi, Pondok Aren, Tangerang Selatan dengan email : business@spora-ev.com
 
Outlet ini akan menjadi experience store, bengkel konversi sekaligus sebagai tempat dimana masyarakat dapat mencari tahu segala sesuatu tentang kendaraan listrik secara umum, khususnya konversi sepeda motor.

Masyarakat yang berminat juga dapat mencoba langsung beberapa tipe sepeda motor yang telah dikonversi pada outlet ini.

Baca juga: PLN mendukung transisi energi global melalui motor listrik di Labuan Bajo
Baca juga: Bupati SBD luncurkan Komunitas Sepeda dan Motor Listrik


 Kendaraan listrik saat ini telah menjadi salah satu isu strategis di Indonesia. Hal tersebut terjadi karena kendaraan listrik sangat terkait dengan beberapa isu penting, mulai penurunan emisi karbon, ketersediaan cadangan nikel kita yang besar.

Hingga berdampak pada besarnya import bahan bakar kita yang berujung atas besarnya subsidi bahan bakar yang harus dianggarkan pemerintah setiap tahunnya.
 
Namun penting, kita melihat bahwa akselerasi adopsi pemakaian kendaraan listrik masih menghadapi tantangan-tatangan. Salah satunya adalah dari sisi ketersediaan kendaraan listrik yang masih terbatas tipenya dan harganya yang relatif lebih mahal dibandingan dengan kendaraan konvensional.
 
Pemerintah sejak akhir tahun 2020, mulai melihat kemungkinan solusi konversi kendaraan untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di tanah air. 

Konversi ini, sejatinya adalah merubah kendaraaan konvensional berbahan bakar bensin atau solar, menjadi kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV).
 
Berlanjut ke 2022, saat ini EV Conversion atau konversi kendaraan listrik telah menjadi salah satu program penting yang terus didorong oleh pemerintah. 

Bentuk nyata keseriusan pemerintah bisa dilihat dari telah dikeluarkannya aturan terkait koversin, baik untuk roda dua (sepeda motor) maupun untuk roda empat dan lebih. Belum lagi rencana subsidi sebesar Rp5 juta per sepeda motor yang melakukan konversi, yang saat ini telah dalam proses perumusan oleh pemerintah.