NTT dilanda angin kencang berkecepatan 45-60 km/jam

id BMKG Kupang

NTT dilanda angin kencang berkecepatan 45-60 km/jam

Prakirawan BMKG Kupang sedang mengamati perkembangan angin yang sedang melanda wilayah NTT saat ini. (ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)

Stasiun Meteorologi El Tari Kupang mengimbau warga setempat mewaspadai potensi cuaca ekstrim berupa angin kencang berkecepatan antara 45 - 60 kilometer/jam pada sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kupang (ANTARA) - Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), mengimbau warga setempat mewaspadai potensi cuaca ekstrim berupa angin kencang berkecepatan antara 45 - 60 kilometer/jam pada sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Maria Patrycia Seran di Kupang, Senin (3/6) mengatakan potensi angin kencang tersebut terutama terjadi di Pulau Timor, Rote, Sabu, dan Sumba.

Berdasarkan hasil pantauan citra satelit, kata dia, pola, tekanan, dan pola angin terpantau adanya daerah yang bertekanan tinggi di Australia (1038 mb) dan sirkulasi siklonik di semenanjung Malaysia (925/850 mb).

"Selisih tekanan udara yang cukup besar itu menguatkan tarikan masa dan meningkatkan kecepatan angin di sekitar wilayah NTT yang dapat mencapai 45 hingga 60 km/jam," katanya menjelaskan.

Menurutnya, kondisi cuaca tersebut perlu diwaspadai karena bisa berdampak rusaknya atap rumah, pohon tumbang, maupun robohnya tiang, papan reklame, baliho, dan lainnya di jalanan. "Kami minta warga pengguna jalan agar lebih waspada dan berhati-hati terhadap dampak dari potensi cuaca ekstrim ini," ujarnya.

Ia menambahkan, cuaca ekstrim ini juga mengakibatkan tinggi gelombang seperti di Selat Sape mencapai 2,5 meter, Selat Sumba 3,5 meter, perairan Selatan Pulau Sumba mencapai 4 meter.

Selain itu, gelombang tinggi juga terjadi di Laut Sawu, Selatan Laut Timor, perairan selatan antara Kupang dan Pulau Rote, serta Samudera Hindia di Selatan NTT. "Kami juga mengimbau para pengguna jasa transportasi penyeberangan laut agar mewaspadai potensi gelombang tinggi tersebut," katanya.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar