Pidato politik Jokowi memberi rasa optimisme

id Jokowi

Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan pidato pada Visi Indonesia di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat Minggu (14/7/2019). Joko Widodo menyampaikan visi untuk membangun Indonesia di periode kedua pemerintahannya diantaranya pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia, investasi, reformasi birokrasi dan efektifitas serta efisiensi alokasi dan penggunan APBN. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/pd).

Pidato politik Jokowi telah memberikan rasa optimisme terkait capaian yang diharapkan melalui akselerasi di segala bidang pembangunan.
Kupang (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang Ahmad Atang menilai, pidato politik Jokowi telah memberikan rasa optimisme terkait capaian yang diharapkan melalui akselerasi di segala bidang pembangunan.

"Menurut saya, pidato politik Jokowi di Sentul telah memberikan rasa optimisme di masyarakat," kata Ahmad Atang kepada ANTARA di Kupang, Senin (15/7).

Ahmad Atang mengatakan, dalam pidato politik itu, Presiden Joko Widodo memberi pesan tiga hal penting.

Pesan pertama adalah pada tataran makro, Indonesia menghadapi persaingan global yang tidak ringan, dan membutuhkan kerja keras untuk menjadi pemenang.

Itu artinya, politik bebas aktif menjadi visi kuat Jokowi lima tahun ke depan untuk membawa Indonesia dalam percaturan global, baik dalam bidang politik, ekonomi dan sosial budaya, kata Ahmad Atang.

Pesan kedua adalah pada tataran visi Jokowi yang belum berubah jauh, masih melanjutkan apa yang telah dilaksanakan pada periode sebelumnya, seperti reformasi birokrasi, penegakan hukum, tata kelola manajemen pembangunan yang berorientasi perubahan, tidak monoton,  dan harus luar biasa.
Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo (kanan) dan KH Ma'ruf Amin (kedua kanan) bersama Ibu Irianan Joko Widodo (kiri) dan Ibu Wury Estu Handayani (kedua kiri) menyapa yang hadir sebelum memberikan pidato pada Visi Indonesia di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat Minggu (14/7/2019). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/pd).
Pesan ketiga, pada tataran mikro, visi Jokowi terjadi pergeseran tekanan dari program infrastruktur ke sumber daya manusia, walaupun tidak sepenuhnya mengabaikan infrastruktur.

"Ini berarti Jokowi membutuhkan pembantu yang inovatif, kreatif dan memiliki mobilitas tinggi, maka menjadi relevan dengan gagasan Jokowi tentang kaum milenial akan diberi peran dalam pemerintahan," katanya.

Kaum milenial yang memiliki SDM bagus dengan gagasan inovatif vokasi sangat menjanjikan untuk memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang diharapkan Jokowi.

Untuk mewujudkan visi dan misinya, dibutuhkan iklim politik yang kondusif, maka Jokowi memberikan ruang adanya dukungan publik untuk mewujudkan visi dan misi tersebut.

"Namun di sisi lain tetap menerima kritik dari oposisi, yang solutif dan konstruktif, bukan menjadi pengganggu karena dendam politik," katanya. 
Presiden Terpilih Joko Widodo saat memaparkan program-programnya di periode 2019-2024 pada acara "Visi Indonesia" di Sentul International Convention Center (SICC) Babakan Madang, Kabupaten Bogor Jawa Barat, Minggu (14/7/2019). (ANTARA FOTO/M Fikri Setiawan)
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar