Agustus-September merupakan puncak kemarau di NTT

id puncak kemarau di NTT 2019

Area persawahan mengering akibat musim kemarau di Atambua, NTT, Jumat (5/10/2018). Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kupang, kekeringan di NTT terus meluas, dari yang semula melanda lima kabupaten bertambah menjadi 11 kabupaten dari 21 kabupaten/kota. (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/kye)

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, puncak musim kemarau di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan berlangsung dari Agustus hingga September 2019.
Kupang (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, puncak musim kemarau di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan berlangsung dari Agustus hingga September 2019.

"Dari hasil monitoring, NTT mulai memasuki puncak musim kemarau pada Agustus ini hingga September," kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Kupang, Apolinaris Geru kepada ANTARA di Kupang, Selasa (20/8).

Karena itu, dia mengimbau masyarakat untuk melakukan penghematan dalam penggunaan air, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk pertanian dan peternakan.

Hal penting lain yang harus diwaspadai adalah jangan membuang puntung rokok, atau membakar sampah pada sembarangan tempat, yang bisa menimbulkan kebakaran.

Dia juga mengimbau para petani untuk tidak membakar sampah di kebun-kebun, terutama pada area sekitar hutan yang mudah terbakar. Apalagi membakar hutan untuk membuka lahan pertanian baru, karena berpotensi menimbulkan kebakaran yang lebih luas, katanya menambahkan.

Kekeringan ekstrem
Berdasarkan monitoring hari tanpa hujan berturut-turut (HTH) dasarian I Agustus 2019, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya mengalami HTH dengan kategori sangat panjang (31-60 hari) hingga kekeringan ekstrem (>60 hari).

Bahkan beberapa wilayah di provinsi berbasis kepulauan ini, yang sudah mengalami hari tanpa hujan dengan kategori kekeringan ekstrem (>60 hari), seperti Waepana di Kabupaten Ngada, sekitar Danga dan Rendu di Kabupaten Nagekeo.

Selain itu, wilayah sekitar Nanganio dan Wolojita di Kabupaten Ende, wilayah sekitar Stamet Maumere, Magepanda dan Waigete) di Kabupaten Sikka. wilayah sekitar Stamet Larantuka dan Konga di Kabupaten Flores Timur, wilayah sekitar Wulandoni di Kabupaten Lembaga, dan wilayah sekitar Kabukarudi di Kabupaten Sumba Barat. 

Baca juga: 22.082 warga Flores Timur merasakan dampak kekeringan
Baca juga: Kekeringan ekstrem landa 44 wilayah di NTT
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar