Puluhan ekor babi mati di Kupang, tapi bukan karena virus ASF

id Ternak babi

Puluhan ekor babi mati di Kupang, tapi bukan karena virus ASF

Petugas Bidang Peternakan Dinas Pertanian sedang melakukan tindakan pencegahan penyebaran dugaan virus toga penyebab penyakit hogcholera pada ternak babi. (ANTARA FOTO/Rinto Aritonang)

Kasus kematian puluhan ekor babi milik warga di Kota Kupang tidak disebabkan serangan virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika.
Kupang (ANTARA) - Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dani Suhadi, mengemukakan kasus kematian puluhan ekor babi milik warga di Kota Kupang tidak disebabkan serangan virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika.

"Indikasi kematian puluhan ekor babi di Kota Kupang beberapa waktu lalu menunjukkan suspect atau dugaan akibat menderita diare bukan disebabkan serangan virus African Swine Fever," katanya ketika dihubungi ANTARA di Kupang, Jumat (1/11).

Dia mengemukakan hal itu terkait adanya kasus kematian lebih dari 20 ekor babi milik warga di Kelurahan Maulafa, Kota Kupang beberapa waktu lalu.

Dani menjelaskan, kasus tersebut tidak pernah dilaporkan warga atau pemilik kepada petugas Dinas Peternakan Kota Kupang maupun provinsi.

Baca juga: Penerbangan Dili-Kupang dilarang bawa komoditi berbahan babi
Baca juga: NTT tangkal virus demam babi Afrika di perbatasan


Namun, lanjut dia, pihaknya mendapat informasi lewat pemberitaan media massa dan langsung menerjunkan anggota Tim Respon Cepat Kesehatan Hewan untuk melakukan investigasi pada Kamis (31/10).

Dia mengatakan, hasil investigasi dengan laporan sementara bahwa kematian puluhan ekor babi itu tidak serentak, namun terakumulasi sejak dua bulan lalu pada anak-anak babi maupun yang berukuran sedang.

"Indikasi yang kami dapat dari investigasi menunjukkan suspect atau dugaan akibat diare pada anak babi yang mati dan bagi pemiliknya juga menjadi hal yang umum terjadi," katanya.

Menurutnya, kasus tersebut terjadi diduga karena kebersihan ternak yang tidak terjaga serta kurang higenisnya air minum untuk anak babi dan kondisi kandang saat melahirkan dan pemeliharaan awal.

Baca juga: Bandara El Tari Kupang dilengkapi karpet anti virus babi Afrika
Baca juga: TRC untuk cegah masuknya virus demam babi Afrika ke NTT


Dia menjelaskan, hasil kesimpulan sementara dari gejala klinis yang terjadi, kematian babi tidak disebabkan serangan virus demam babi Afrika yang saat ini sudah menjangkiti negara tetangga di Timor Leste.

Dia mengatakan, dari hasil investigasi terhadap induk babi dan indukan lainnya tetap dalam kondisi sehat dan bahkan menunjukkan produktivtias kembali.

"Namun demikian hasil investigasi dengan pengambilan darah dan uji laboratorium tetap dilakukan untuk memastikannya," katanya.

Baca juga: NTT masih aman dari ancaman virus babi Afrika
Baca juga: Para peternak diminta waspada terhadap flu Babi Afrika
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar