TRC untuk cegah masuknya virus demam babi Afrika ke NTT

id Ternak babi

TRC untuk cegah masuknya virus demam babi Afrika ke NTT

Kepala Dinas Peternakan NTT Danny Suhadi. (ANTARA/Bernadus Tokan)

NTT telah membentuk tim reaksi cepat (TRC), untuk mencegah masuknya virus demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) ke wilayah ini melalui pintu perbatasan Indonesia-Timor Leste.
Kupang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), telah membentuk tim reaksi cepat (TRC), untuk mencegah masuknya virus demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) ke wilayah ini melalui pintu perbatasan Indonesia-Timor Leste.

"Kami telah membentuk tiga tim yang terdiri dari Dinas Peternakan, Balai Besar Veteriner Denpasar dan Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian RI untuk dapat terjun langsung ke wilayah perbatasan," kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Danny Suhadi di Kupang, Rabu (9/10).

Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan upaya Pemerintah Provinsi NTT dalam upaya mencegah masuknya virus demam babi Afrika yang dilaporkan menyerang ternak babi di negara tetangga Timor Leste.

Menurut dia, tim yang beranggotakan 18 orang ini, terbagi dalam tiga regu. Setiap regu masing masing beranggotakan enam orang.

Tim reaksi cepat bertugas melaksanakan upaya preventif, baik langsung ke masyarakat peternak maupun ke stakeholder di wilayah perbatasan.

Baca juga: Populasi ternak babi di NTT 2.073.446 ekor
Baca juga: NTT miliki dua sentra pembibitan ternak babi


Tindakan preventif ini antara lain melalui sosialisasi terhadap masyarakat yang dilaksanakan dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) dengan sasaran masyarakat peternak.

Dia menambahkan, Pemerintah NTT juga memanfaatkan media massa seperti radio, surat kabar, televisi dan online serta media sosial termasuk pamflet, spanduk dan banner sebagai wadah penyuluhan penanggulangan virus ASF.

Dany Suhadi menambahkan, selain itu pihaknya telah membuat regulasi dalam bentuk instruksi gubernur dan diharapkan akan segera disahkan untuk dapat ditindaklanjuti secara teknis di lapangan.

Instruksi tersebut diantaranya berisi upaya memperketat keluar masuk lalulintas di perbatasan, penguatan tindakan biosecurity terhadap ternak peliharaan, serta upaya preventif lain untuk mencegah tertularnya ternak babi oleh ASF.

AFS merupakan virus yang mematikan dan menular. Saat ini belum ada obat atau vaksin. Virus ini tidak menjangkit manusia sekalipun mengkonsumsi daging babi yang terjangkit AFS.

Baca juga: Artikel - Kisah bidan ternak babi di Sumba Barat Daya
Baca juga: Babi Dominasi Populasi Ternak di NTT
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar