TWA Menipo mampu tingkatkan kesejateraan masyarakat

id TWA Menipo

TWA Menipo mampu tingkatkan kesejateraan masyarakat

Gubernur NTT Viktor B Laiskodat (kiri), Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT Timbul Batubara (tengah), Tenaga Ahli Menteri Linkungan Hidup dan Kehutanan Pramu Riwanto menari 'Ra'a Ro bersama masyarakat saat menghadiri puncak Festival Menipo di halaman Lippo Plaza Kupang, NTT, Kamis (14/11/2019). (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha).

Kementerian LHK menilai bahwa kawasan TWA Menipo mampu meningkatkan kesejateraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi daerah jika dikelolah dengan baik.
Kupang (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menilai bahwa kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Menipo di Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, mampu meningkatkan kesejateraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi daerah jika dikelolah dengan baik.

"Saat ini pengembangan TWA ini melibatkan tiga pilar antara lain tokoh agama, adat dan pemerintah. Kita berharap agar pengembangan TWA ini nantinya bisa meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat yang ada di kawasan TWA itu," kata Tenaga Ahli Menteri LHK Kementerian LHK Pramu Riwanto di Kupang, Kamis (14/11).

Hal ini disampaikannya dalam sambutannya ketika menghadiri puncak Festival Menipo di Kota Kupang, yang awalnya sudah dilakukan pada Januari 2019.

Pramu menilai bahwa puncak Festival Menipo yang dilakukan di Kota Kupang merupakan even pesta rakyat yang strategis untuk meningkatkan sinergitas pemerintah pusat, daerah pemangku adat, tokoh agama serta tokoh-tokoh masyarakat.

Menurut dia inisiatif pengembangan TWA Menipo yang dilakukan melalui pengolahan ekowisata bersama dengan berbasis tiga pilar, adat, agama dan pemerintah ini perlu mendapat apresiasi dan dukungan untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar dan kelestarian TWA Menipo.

Baca juga: BBKSDA inginkan masyarakat punya rasa memiliki TWA Menipo
Pesona alam Pulau Menipo di Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, NTT. Saat ini, ASITA NTT sedang menjajaki destinasi wisata tersebut untuk dijual sebagai bagian dari paket wisata di Pulau Timor. (ANTARA Foto/HO-Abed Frans) 
Tiga pilar dalam pengembangan ekowisata terdiri dari pilar pemerintah. Dalam hal ini BBKSDA NTT dan Pemda setempat yang menginisiasi pengembangan ekowisata di TWA Menipo dengan melibatkan masyarakat setempat.

Lanjutnya, pilar agama dalam hal ini tokoh agama yang berperan dalam membantu mengkomunikasikan ide pengembangan wisata dalam setiap pembinaan rohani masyarakat dan mendorong semangat melestarikan alam.

Masyarakat adat setempat, katanya, dengan dimotori para ketua berperan sebagai subjek dengan aturan adatnya dalam pengelolaan ekowisata Menipo.

Kawasan TWA Menipo merupakan miniatur ekosistem yang ada di Pulau Timor yang meliputi ekosistem hutan, mangrove, padang savana dengan pohon lontar, pantai pendaratan penyu, habitat buaya muara dan hutan tropika kering.

Satwa langka yang hidup di TWA itu antara lain kakatua jambul kuning, rusa timor, penyu hijau dan beberapa satwa langka lainnya.

Untuk bisa sampai ke lokasi itu, pengunjung harus menggunakan jalur darat dengan menempuh perjalan selama tiga jam dari Kota Kupang.

Baca juga: Asita sayangkan buruknya akses jalan menuju Menipo
Baca juga: ASITA jajaki penjualan wisata alam laut Menipo
Pesona alam Pulau Menipo di Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, NTT. Saat ini, ASITA NTT sedang menjajaki destinasi wisata tersebut untuk dijual sebagai bagian dari paket wisata di Pulau Timor. (ANTARA Foto/HO-Abed Frans) 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar