Pola siklonik di Australia picu cuaca ekstrem di wilayah NTT

id cuaca di ntt

Pola siklonik di Australia picu cuaca ekstrem di wilayah NTT

Sejumlah wisatawan mendaki puncak Pulau Padar untuk menyaksikan keindahan alam di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) di Manggarai Barat, NTT, Selasa (21/1/2020). Menurut Balai TNK, jumlah kunjungan wisatawan sejak Desember 2019 hingga pertengahan Januari 2020 mengalami penurunan dari biasanya 600 wisatawan per hari menjadi 100 wisatawan per hari, akibat cuaca ekstrim yang melanda daerah tersebut. (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha

"Hujan deras yang terjadi sejak Rabu (22/1) disebabkan karena adanya pola siklonik di sekitar Teluk Carpentaria di pesisir utara Australia," kata Agung Sudiono Abadi..
Kupang (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun El Tari Kupang menyebutkan pola siklonik yang terjadi di sekitar Teluk Carpentaria di pesisir utara Australia, telah memicu terjadinya cuaca ektrem di wilayah Nusa Tenggara Timur.

"Hujan deras yang terjadi sejak Rabu (22/1) disebabkan karena adanya pola siklonik di sekitar Teluk Carpentaria di pesisir utara Australia," kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi El Tari, Agung Sudiono Abadi di Kupang, Kamis (23/1).

Pola siklonik inilah, kata Agung Sudiono Abadi yang mengakibatkan adanya konvergensi angin di wilayah NTT, khususnya wilayah Pulau Timor.

Dampaknya adalah akan terjadinya hujan deras, dan diprakirakan sepanjang hari Kamis (23/1) akan berawan dan berpotensi terjadi hujan ringan sampai sedang.

Selain berdampak pada peningkatan gelombang di sejumlah wilayah perairan laut NTT dalam beberapa hari ke depan.
Cuaca kurang bersahabat yang mengakibatkan lintasan penyeberangan di NTT tidak dibuka oleh otoritas ASDP Kupang, Minggu (5/1/2020). (ANTARA FOTO/HO-Wahab Sidin) 
Dalam hubungan itu, dia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak bencana yang dapat ditimbulkan seperti banjir, genangan air, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang dan kilat/petir.

Selain itu, bagi pengguna dan operator jasa transpotasi laut, nelayan, wisata bahari dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar wilayah pesisir, diimbau untuk mewaspadai potensi tinggi gelombang laut.

Mengenai gelombang dia mengatakan, tinggi gelombang berkisar 1.25-2.5 meter berpotensi terjadi di perairan laut Selat Sape bagian selatan, selat Sumba bagian barat,, laut Sawu.

Selain terjadi pada wilayah perairan laut Samudera Hindia selatan Sumba, Sabu, perairan Selatan Kupang-Rote Ndao, katanya menambahkan.
Sejumlah penumpang pesawat menggunakan payung berjalan menuju pesawat di Bandara El Tari Kupang, NTT Kamis, (28/12/2018), akibat cuaca buruk. (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/hp).
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar