Artikel - Pulau Rinca Taman Nasional Komodo sebagai wisata alam dan edukasi

id pulau rinca,taman nasional komodo,labuan bajo,manggarai barat,ntt,pariwisata,klhk,wisata edukasi,konservasi alam,komodo,artikel pariwisata Oleh Fransiska Mariana Nuka

Artikel - Pulau Rinca Taman Nasional Komodo sebagai wisata alam dan edukasi

Dua rangka komodo yang terpajang dalam museum Niang Komodo, Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. (ANTARA/Fransiska Mariana Nuka)

...Pulau Rinca merupakan salah satu bagian dalam kawasan Taman Nasional Komodo yang kini menjadi rujukan kawasan wisata alam dan edukasi. Destinasi iniĀ  dipersiapkan untuk mendukung potensi ekowisata tersebut
Mbay (ANTARA) - Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, telah berbenah menjadi destinasi pariwisata kelas dunia. Taman nasional yang ditetapkan UNESCO sebagai cagar biosfer dan warisan dunia ini memiliki berbagai potensi ekowisata yang tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, melainkan juga penerapan nilai konservasi di dalamnya.

Pulau Rinca merupakan salah satu bagian dalam kawasan Taman Nasional Komodo yang kini menjadi rujukan kawasan wisata alam dan edukasi. Destinasi ini  dipersiapkan untuk mendukung potensi ekowisata tersebut.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PURR) pun telah membangun sarana prasarana pendukung pariwisata yang merupakan infrastruktur berstandar internasional dan ramah lingkungan untuk mendukung potensi ekowisata pada Lembah Loh Buaya itu. Sarana prasarana edukasi dan wisata alam itu meliputi komplek area Komodo Information Center yang diberi nama Niang Komodo.

Apabila berkunjung ke museum, para naturalist guide yang merupakan masyarakat lokal akan menemani para pengunjung. Perjalanan memasuki dalam museum akan diawali dengan penjelasan Taman Nasional Komodo lewat peta video interaktif. Selanjutnya, ada beberapa panel diorama yang menjelaskan tentang flora dan fauna yang berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo.

Berikutnya, ada pula panel TN Komodo Heroes atau apresiasi bagi individu yang berjasa bagi Taman Nasional Komodo. Terakhir, ada pajangan dua rangka komodo yang memiliki kisahnya masing-masing.

Dua rangka komodo yang terpajang dalam museum Niang Komodo adalah Jessica dan Mr X. Jessica adalah komodo betina dengan kisaran umur 28 tahun, sedikit lebih tua dari kisaran usia komodo betina lainnya. Hal itu terlihat dari bentuk tulang yang mulai keropos dan tulang gigi yang tanggal.

Selanjutnya, ada Mr X yang merupakan komodo jantan dari Loh Liang Pulau Komodo dan mati karena kalah bersaing dengan sesama komodo jantan lain. Hal itu bisa dilihat dari tulang dan struktur gigi yang cenderung masih utuh.

KLHK menyebut kehadiran Museum Niang Komodo dengan berbagai informasi di dalamnya itulah yang menjadi wisata edukasi kepada para pengujung, sehingga para pengunjung tidak hanya sebatas treking, melainkan dapat pula belajar tentang kehidupan Komodo dalam kawasan taman nasional itu.

Adapun Loh Buaya Pulau Rinca ini dibuka dari pukul 07.00 Wita hingga 11.00 Wita. Lalu dibuka lagi pada pukul 13.00 Wita hingga 17.00 Wita. Target kunjungan ke tempat itu yakni 1.000 orang per hari.

Sebelum mencapai museum, pengunjung akan terlebih dahulu melewati infrastruktur pendukung lain yang telah terbangun yakni jalan jerambah (elevated deck) yang dibangun dengan ketinggian dua meter agar tidak mengganggu aktivitas komodo dan satwa lain yang melintas. Jalan jerambah itu juga sekaligus melindungi keselamatan wisatawan yang berkunjung ke sana.

Para pengunjung bisa memilih berwisata dengan berjalan melewati jalan jerambah itu atau melakukan treking dengan paket wisata yang telah disampaikan sebelumnya terlebih dahulu.

Selain museum dan jalan jerambah, infrastruktur lain yang dibangun adalah penginapan untuk ranger, peneliti, dan pemandu wisata, pos istirahat, pos jaga tiket, jaringan air minum, reservoir, dermaga, dan pengaman pantai. Pembangunan sarana prasarana ini pun telah diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada Juli 2022.


Berbasis tapak

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memastikan pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo berbasis tapak atau melibatkan partisipasi aktif masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

KLHK memiliki konsep pengelolaan konservasi yang berbasis masyarakat dengan adanya penguatan pengelolaan kawasan lewat pola Resort Based Management (RBM).

Pola yang dimaksud itu adalah pengelolaan tingkat tapak yang dilakukan melalui pemberdayaan peran serta masyarakat sekitar kawasan konservasi.

Partisipasi masyarakat lokal terlihat dari keterlibatan mereka sebagai naturalist guide yang menerima dan mendampingi wisatawan selama berkunjung ke Taman Nasional Komodo. Selain itu, ada pengoperasian kantin koperasi yang dikelola oleh masyarakat.

Tapak pun telah menjadi target pengelolaan KLHK pada setiap kawasan konservasi di Indonesia, sehingga nantinya ada pengelolaan bersama semua fasilitas sarana prasarana yang ada di wilayah tersebut.

Komitmen pemerintah yang terwujud dalam penataan kawasan Pulau Rinca bertujuan untuk meningkatkan kualitas infrastruktur pariwisata Taman Nasional Komodo. Penataan kawasan itu dilakukan sejak tahun 2020-2022 dengan anggaran mencapai Rp113,85 miliar.

Baca juga: Artikel - Mengemas arung jeram jadi atraksi wisata unggulan di Matim

Presiden Jokowi mengatakan pembenahan Pulau Rinca ditujukan bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke sana. Konservasi alam tentunya tetap diutamakan dalam kawasan tersebut. Dengan adanya banyak penataan infrastruktur di daerah pariwisata super prioritas itu ditargetkan minimal satu juta kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, berharap pemanfaatan sarana prasarana wisata alam dan edukasi di Pulau Rinca itu dapat menggaungkan bentuk ketegasan pemerintah dalam mempertahankan kelestarian lingkungan di mata dunia.

Baca juga: Artikel - Melihat potensi agrowisata stroberi di TN Kelimutu

KLHK optimistis kehadiran Pulau Rinca sebagai wisata alam dan edukasi dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat.  Taman Nasional Komodo sebagai warisan dunia UNESCO semakin dioptimalkan. Dengan demikian, kawasan konservasi dapat bermanfaat menjadi pusat-pusat pertumbuhan.