32 warga Kupang Tengah terserang DBD

id PUSKESMAS

Kepala Puskesmas Tarus, Kabupaten Kupang, NTT drg Imelda Sudarmadji. (ANTARA Foto/Benny Jahang).

Sedikitnya 32 warga Kecamatan Kupang Tengah di Kabupaten Kupang terserang demam berdarah dengue (DBD) akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang mulai menyerang kawasan tersebut sejak Januari 2019.
Kupang (ANTARA News NTT) - Sedikitnya 32 warga Kecamatan Kupang Tengah di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur terserang demam berdarah dengue (DBD) akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang mulai menyerang kawasan tersebut sejak Januari 2019.

"Penderita penyakit DBD untuk kecamatan Kupang Tengah terus meningkat sejak daerah ini dilanda cuaca ekstrem. Jumlah penderita DBD telah mencapai 32 orang sebagian besar merupakan anak-anak," kata Kepala Puskesmas Tarus drg Imelda Sudarmadji ketika ditemui Antara di Tarus, Kamis (7/2).

Ia menjelaskan, terhitung sejak akhir Januari hingga 7 Pebruari 2019 jumlah penderita DBD di wilayah yang berbatasan dengan Kota Kupang ini mencapai 32 orang dan satu penderita meninggal dunia setelah dua hari dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Kupang.

Dikatakannya, kasus DBD yang menyerang wilayah Kecamatan Kupang Tengah ini sudah dalam status waspada sehingga semua masyarakat harus melakukan berbagai upaya untuk melakukan penangulangan penyakit DBD agar tidak terus meningkat.

Menurut Imelda, korban DBD terbanyak di Desa Penfui Timur dengan jumlah kasus sekitar 10 orang yang umumnya mahasiswa yang tinggal di kos-kosan.

"Kami turun langsung ke masyarakat untuk memberikan edukasi tentang penangulangan DBD termasuk membagikan bubuk abate kepada masyarakat," ujar Imelda.

Menurutnya, penderita DBD yang datang berobat ke Puskesmas Tarus pada umumnya hanya melakukan rawat jalan karena kondisi pasien belum terlalu berat, selain itu ada pasien juga terpaksa dirujuk ke RSU untuk pelayanan yang lebih memadai.

Baca juga: Dinkes Kupang dorong masyarakat jadi jumantik DBD
Baca juga: Korban DBD terus berjatuhan
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar