Tingkat Produksi Cabai di NTT Fluktuatif

id Cabai

Produksi cabai merah di NTT mengalami fluktuatif sehingga menjadi salah satu pemicu terjadinya kenaikan harga komoditas tersebut di pasaran.

Penurunan produksi cabai besar tersebut terjadi di seluruh daratan Pulau Sumba, dan sebagian daratan Flores dan Timor.
Kupang (Antara NTT) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur Maritje Pattiwaellapia mengatakan, tingkat produksi cabai besar dan kecil di daerah ini hingga 2016 masih fluktuatif atau naik turun.

"Misalnya produksi cabai besar di NTT dalam tiga tahun terakhir tercatat 1,9 ribu ton atau mengalami penurunan sebesar 472 ton (19,77 persen) dibandingkan sebelumnya," katanya di Kupang, Senin, terkait pemicu tingginya harga cabai saat ini di daerah berbasiskan kepulauan ini.

Dia menyebut penurunan produksi cabai besar tersebut terjadi di seluruh daratan Pulau Sumba, dan sebagian daratan Flores dan Timor.

Tahun 2013, misalnya produksi cabai besar di provinsi NTT yang tertinggi ada di Kabupaten Sikka yakni sebesar 866 ton. Produksi terendah ada di Kabupaten Sumba Barat yakni sebesar 10 ton.

"Kondisi tersebut disebabkan menurunnya produktivitas sebesar 2,06 ton/ha (55,89 persen), sementara luas panen terjadi peningkatan sebesar 530 hektare (81,92 persen)," katanya.

Sementara untuk cabai kecil atau cabai rawit segar dengan tangkai produksi tahun 2013 sebesar 3,3 ribu ton dengan luas panen cabai rawit tahun 2013 sebesar 1,8 ribu hektare, dan rata-rata produksi 1,85 ton/ha.

Produksi itu dibandingkan tahun 2012, terjadi kenaikan produksi sebesar 1,2 ribu ton (26,28 persen). Kenaikan ini disebabkan kenaikan luas panen sebesar 464 hektare (34,78 persen), sementara untuk produktivitas terjadi penurunan sebesar 1,54 ton/ha (45,30 persen).

"Disinilah nampak fluktuatifnya cabai antara cabai besar dan cabai rawit segar yang mengalami penurunan sebesar 472 ton (19,77 persen) dibandingkan tahun 2012. Sementara produksi cabai rawit segar dengan tangkai tahun 2013 sebesar 3,3 ribu ton dengan luas panen cabai rawit tahun 2013 sebesar 1,8 ribu hektare, dan rata-rata produksi 1,85 ton/ ha terjadi kenaikan produksi sebesar 1,2 ribu ton (26,28 persen)," katanya.

Solusinya kata dia, secara nasional Kementerian Pertanian telah dan terus gencar menyosialisasikan gerakan tanam cabai dalam pot dalam program "urban farming" yang pencanangannya dipusatkan di Kelurahan Margahayu, Bekasi, Jawa Barat.

Menurut hal ini (sosialisasi) perlu mendapat dukungan semua pihak karena secara nasional pula kebutuhan cabai sangat besar, yakni mencapai 1,7 juta ton per tahun yang juga menjadi faktor pemicu harganya fluktuatif.

"Diharapkan dengan adanya gerakan ini tidak ada lagi harga cabai yang tinggi seperti saat ini harga cabai per kilogram sampai Rp120.000," katanya.

Karena itu masyarakat terutama diimbau terutama perempuan untuk melakukan optimalisasi untuk pekarangan (GPOP) untuk memanfaatkan pekarangannya agar ditanam tumbuh-tumbuhan produktif guna memenuhi kebutuhan diantaranya cabai dan sayuur-mayur lainnya.

Ia mengatakan jika setiap rumah bisa menanam cabai di pekarangan rumah, bisa menghemat biaya dari Rp150.000--Rp750 ribu per bulan, bahkan jika dimanfaatkan untuk dijual bisa meraup keuntungan hingga Rp1,5 juta per bulan.

"Sebetulnya konsumsi cabai rawit hanya 15 persen dari keseluruhan produksi cabai, namun sangat fluktuatif, hal itulah yang mempengaruhi harga lima jenis cabai lainnya," katanya.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar