Untuk sosialisasi pasar digital, BI NTT gandeng Bukalapak

id BI

Kepala BI NTT Naek Tigor Sinaga (kiri), Bupati Sumba Barat Agustinus Niga Dapawole (kedua kiri) berpose bersama perwakilan dari Bukalapak Andika (ketiga kiri) usai sosialisasi serta pelatihan UMKM di Sumba Barat pekan lalu. (ANTARA Foto/Dok BI NTT).

Kantor Perwakilan BI Wilayah NTT menggandeng Bukalapak untuk mensosialisasikan manfaat mengakses pasar digital dan bertransaksi secara daring.
Kupang (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Nusa Tenggara Timur mengandeng Bukalapak untuk mensosialisasikan manfaat mengakses pasar digital dan bertransaksi secara daring.

"BI NTT baru tahun ini mengandeng Bukalapak guna membantu mensosialisasikan manfaat pasar digital," kata Asisten Manager Kantor Perwakilan BI NTT Andre Asa kepada Antara di Kupang, NTT, Senin (25/3).

BI NTT sengaja menggandeng Bukalapak karena perusahaan pemasaran digital itu dinilai sebagai salah satu unicorn yang saat ini tengah berkembang pesat di Indonesia.

Ia menjelaskan dalam acara sosialisasi di Sumba Barat pekan lalu, Bukalapak mengajarkan puluhan UMKM bagaimana cara berjualan di websitenya, kemudian juga bagaimana menghasilkan gambar yang menarik, sehingga para pembeli tertarik.

"Untuk tahun ini baru pertama kami lakukan di Sumba Barat. Namun nanti akan ada kegiatan yang sama di Pulau Timor dan Pulau Flores," ujarnya.

Sosialisasi tersebut bertujuan untuk mendata berapa jumlah UMKM di NTT yang sudah menerapkan sistem pasar digital, sebab sampai sejauh ini BI NTT sendiri belum mempunyai data UMKM yang sudah mengakses pasar digital.

Namun secara parsial, sudah banyak yang menerapkan, yakni dengan cara mempromosikannya di media sosial.

"Kalau data BI NTT sampai saat ini kami belum temukan adanya UMKM yang sudah menerapkan sistem itu, tetapi kalau secara parsial, memang ada," tambah Andre.

Kepala kantor BI perwakilan NTT Naek Tigor Sinaga  mengatakan BI saat ini menjadi bank sentral yang berkontribusi secara nyata terhadap perkembangan perekonomian.

Salah satu program strategis yang tengah dikembangkan adalah dengan memperkuat kebijakan untuk mengembankan ekonomi dan keuangan digital.

"Berdasarkan data BI, transaksi e-commerce dalam negeri mencapai angka Rp11 triliun-Rp13 triliun per bulan dan transaksi tersebut terus mengalami peningkatan tiap waktu," demikian Naek Tigor Sinaga.

Baca juga: Pengamat nilai positif rencana BI-OJK NTT bentuk TPAKD
Baca juga: BI NTT kembangkan pemasaran tenun ikat secara digital
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar