Kupang, NTT (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau year on year (yoy) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada September 2025 sebesar 2,30 persen lebih rendah dibandingkan Agustus 2025 (yoy) sebesar 2,71 persen.
“Inflasi tahunan di NTT pada September 2025 sebesar 2,30 persen (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,48,” kata Kepala BPS Provinsi NTT Matamira B. Kale di Kupang, Kamis.
Ia menjelaskan, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Ngada sebesar 3,90 persen dengan IHK sebesar 108,56 dan inflasi terendah terjadi di Waingapu sebesar 0,86 persen dengan IHK sebesar 107,04.
Selain itu, kelompok pengeluaran dengan andil inflasi tertinggi pada September 2025 (yoy) adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,59 persen diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,57 persen.
“Sementara andil deflasi (yoy) tertinggi terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki dengan andil 0,06 persen,” katanya menambahkan.
Lebih lanjut, ia mengatakan Provinsi NTT mengalami deflasi month to month (mtm) sebesar 0,43 persen pada September 2025.
“Jika dilihat berdasarkan wilayah, deflasi mtm terjadi di seluruh wilayah cakupan IHK di NTT. Deflasi terdalam terjadi di Waingapu sebesar 1,32 persen diikuti Maumere 1,03 persen, Kabupaten Timor Tengah Selatan 0,79 persen, Kabupaten Ngada 0,42 persen dan Kota Kupang 0,12 persen,” jelas dia.
Sementara itu, penyebab dominan deflasi m-to-m adalah turunnya indeks harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,33 persen dengan andil -0,49 persen.
“Penghambat dominan deflasi mtm September 2025 adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi 1,62 persen dan andil 0,1 persen,” katanya.
Adapun inflasi year-to-date (y-to-d) sebesar 1,02 persen pada September 2025.

