Tim kampanye kedua capres-cawapres saling klaim kemenangan

id Jokowi Prabowo

Tim kampanye kedua capres-cawapres saling klaim kemenangan

Pendukung pasangan capres dan cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mengikuti kampanye akbar di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (7/4/2019). (ANTARA FOTO/zarqoni maksum)

Tim kampanye kedua pasangan capres-cawapres semakin gencar melakukan kampanye terbuka, saling klaim lebih banyak menggalang massa guna menyukseskan kampanye menghadapi Pemilu 2019.
Jakarta (ANTARA) - Analis Politik dari Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai tim kampanye kedua pasangan capres-cawapres semakin gencar melakukan kampanye terbuka, saling klaim lebih banyak menggalang massa guna menyukseskan kampanye menghadapi Pemilu 2019.

"Apakah kampanye terbuka signifikan terhadap tingkat elektabilitas kandidat? Kampanye gaya lama ini sepertinya tidak akan efektif," kata Pangi Syarwi Chaniago di Jakata, Senin (8/4).

Menurut Pangi Syarwi, ada beberapa alasan, kampanye terbuka tidak signifikan dalam meningkatkan elektabilitas pasangan capres-cawapres. Pertama, kampanye terbuka hanya digunakan untuk gagah-gagahan atau show off force.

Kedua, inefesiensi anggaran. Anggaran sangat besar yang dikeluarkan pada kampanye terbuka, kadang tidak ada korelasi positif dengan semakin luasnya dukungan politik yang diperoleh masing-masing kandidat.

Ketiga, tidak memperluas basis segmen pemilih. Hadirnya massa dalam jumlah besar tidak menjadi jaminan bahwa kemenangan menjadi milik kandidat tertentu.

Mereka yang hadir sebagian besar sudah dipastikan akan mendukung kandidat yang bersangkutan, sisanya mereka hanya ikut-ikutan dan yang pasti model kampanye semacam ini tidak akan menambah asupan elektoral yang signifikan terhadap kandidat.
Pasangan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin mengikuti Karnaval Indonesia Satu yang menampilkan berbagai keragaman budaya Indonesia di Kota Tangerang, Banten, Minggu (7/4/2019) sore. (ANTARA FOTO/Joko Susilo)
Keempat, ilusi merasa menang. Efek psikologis hadirnya massa yang besar di sisi lain juga punya sisi negatif baik terhadap kandidat maupun pendukungnya, mereka merasa dapat dukungan yang besar dan luas dari masyarakat sehingga perasaan atau rasa-rasa akan memenangkan kompetisi semakin memuncak.

Padahal, kata Pangi, massa yang hadir pada kampanye terbuka, jika dibandingkan dengan jumlah pemilih sangat lah sedikit.

"Apalagi, massa yang hadir dalam kampanye terbuka, orangnya itu itu aja. Pada kampanye terbuka paslon 01 mereka hadir, pada kampanye paslon 02 mereka juga hadir.

Mereka hadir pada semua kampanye, dari massa yang sama, yang penting mereka bahagia bisa menikmati hiburan dan syukur-syukur dapat uang transportasi," katanya.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini menegaskan, bahwa harus diakui, kampanye terbuka sedikit berdampak apabila dipancarkan melalui serangan udara melalui media sosial dan media massa arus utama setelah kampanye terbuka.

"Apalagi, jika tim pasukan udaranya jago mengelola konten dan narasi," katanya.

Karena itu, menurut Pangi Syarwi, massa yang hadir dalam kampanye akbar tidak menjadi jaminan maupun ukuran menang atau kalah, tapi memastikan mereka datang ke tempat pemungutan suara (TPS) jauh lebih penting dari pada sekedar berbangga diri dengan jumlah massa besar yang berkumpul di lapangan terbuka.

Pemilu presiden 2019 diikuti dua pasangan capres-cawapres, yakni pasangan 01 Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin, dan pasangan 02 Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno.
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) saat mengikuti Debat Capres 2019 putaran kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/Dok))
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar