Penyambungan listrik bagi warga miskin di NTT sebaiknya disubsidi Pemda

id PT PLN Wilayah NTT

General Manager PT PLN (Persero) Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ignatius Rendroyoko, (ANTARA FOTO/Aloysius Lewokeda)

Masih banyak rumah tangga miskin di NTT yang belum dialiri listrik sesuai data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).
Kupang (ANTARA) - General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur Ignatius Rendroyoko, berharap agar penyambungan listrik untuk rumah tangga miskin di provinsi setempat dibantu melalui subsidi pemerintah daerah (Pemda) masing-masing.

"Selain program penyambungan listrik gratis, ternyata masih banyak rumah tangga miskin yang belum dialiri listrik sehingga kami berharap peran setiap Pemda dapat membantunya dalam bentuk subsidi," katanya kepada ANTARA di Kupang, Sabtu (22/6).

Ia mengatakan, pihaknya telah menuntaskan penyambungan listrik gratis untuk 11.000 rumah tangga miskin di provinsi setempat melalui program bantuan sosial (CSR PLN).

Namun, lanjutnya, masih banyak rumah tangga miskin yang menyebar di provinsi berbasiskan kepulauan itu yang belum dialiri listrik sesuai data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

Ia menjelaskan, dari data TNP2K terdapat 24.681 rumah tangga miskin di provinsi setempat yang di antaranya terdapat 17.259 RT belum berlistrik.

Baca juga: 25 pulau di NTT masih gelap gulita

Untuk itu, pihaknya berharap agar rumah tangga miskin yang tidak terjangkau dengan program penyambungan listrik gratis dari PLN bisa dibantu pemerintah daerah melalui subsidi.

"Sehingga beban masyarakat untuk biaya penyambungan lebih ringan dan bisa menikmati listrik," katanya.

Rendroyoko menambahkan, pihaknya juga berharap peran aktif dari Pemda untuk mendata masyarakatnya yang tidak mampu termasuk yang tinggal di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).

Baca juga: PLN NTT siapkan kabel laut untuk pulau-pulau kecil
Baca juga: Bantuan listrik gratis untuk 11.000 rumah tangga berhasil dinyalakan
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar