Bagaimana mendorong kopi Lakmaras tembus pasar modern

id Kopi

Produk kopi Lakmaras dalam kemasan yang dihasilkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Lakmaras di Desa Lakmaras, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (ANTARA FOTO/istimewa)

"Kopi Lakmaras yang diproduksi BUMDes sudah bagus tetapi belum masuk pasar modern karena produksi terbatas sehingga menjadi fokus untuk kita terus dorong," kata Sinun Petrus Manuk.
Kupang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mendorong produksi kopi Lakmaras, yang diproduksi badan usaha milik desa (BUMDes) di Desa Lakmaras, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, mampu menembus pasar modern.

"Kopi Lakmaras yang diproduksi BUMDes sudah bagus tetapi belum masuk pasar modern karena produksi terbatas sehingga menjadi fokus untuk kita terus dorong," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi NTT Sinun Petrus Manuk di Kupang, Jumat (19/7).

Ia menjelaskan, kopi Lakmaras merupakan kopi organik yang diproduksi BUMDes Lakmaras dan sudah dipasarkan dalam kemasan 250 gram dengan harga Rp45.000.

Namun, lanjutnya, kapasitas produksinya masih terbatas sehingga belum dijual di pasar-pasar modern yang membutuhkan pasokan dalam jumlah banyak dan berkelanjutan.

"Sehingga Ini yang sedang kami dorong agar produksinya ditingkatkan sehingga bisa masuk di mall, swalayan, atau pusat perbelanjaan modern lainnya terutama di berbagai kota di NTT," katanya.
Tokoh adat memetik kopi untuk pertama kali saat berlangsungnya Tradisi Upacara Petik Kopi di Perkebunan Kopi Kawi Sari, Blitar, Jawa Timur, Rabu (17/7/2019). Kegiatan yang menandai awal musim panen buah kopi itu merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan dan alam semesta seraya memanjatkan doa agar hasil panen kopi melimpah dengan kualitas yang bagus. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori/aww).
Menurut dia, produksi kopi Lakmaras perlu diperkuat dengan dukungan tambahan dana melalui dukungan anggaran dari program dana desa maupun dari lembaga keuangan lainnya.

"Kami sedang menata ini, BUMDes Lakmaras dan lainnya yang sudah kami data agar nantinya menjadi BUMDes unggulan akan diperkuat dari sisi manajemen maupun sumber daya manusianya," katanya.

Sinun menambahkan, pemerintah provinsi menargetkan paling kurang akan ada lima BUMDes, masing-masing menyebar di 21 kabupaten se-NTT dikembangkan sebagai BUMDes unggulan yang produktif dan bisa mendatangkan keuntungan bagi desa.

"Saat ini sudah banyak BUMDes yang sudah mulai menggeliat dengan mengelola berbagai potensi di desa seperti pertanian, kelautan dan perikanan, pariwisata, dan lain-lain," ujarnya.
Tim penilai dari Kemendagri meninjau kebun kopi saat penilaian lomba desa tingkat nasional di Desa Giyono, Jumo, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (16/7/2019). (ANTARA FOTO/Anis Efizudin/nz.)
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar