Kupang (Antara NTT) - Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II mencatat progres pembangunan bendungan Napunggete di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur baru mencapai 25 persen.
"Sampai dengan saat ini progres pembangunan bendungannya baru mencapai 25 persen," kata Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II Agus Sosiawan di sela-sela kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pendjaitan untuk memantau pembangunan Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang, Selasa (31/10).
Agus menjelaskan pembangunan bendungan seluas 161,61 hektare tersebut hingga kini terus dikerjakan dan ditargetkan selesai dalam waktu tiga sampai empat tahun.
Namun, apabila lebih cepat lagi maka hal tersebut akan lebih baik lagi seperti pembangunan dua bendungan lainnya di Pulau Timor yakni Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang serta Bendungan Rotiklot di Kabupaan Belu.
"Sejauh ini tidak ada kendala sama sekali untuk pembangunannya. Kita harapkan ini bisa lebih cepat," tambahnya.
Bendungan Napunggete merupakan bendungan ketiga di NTT yang dibangun oleh pemerintah setelah membangun Bendungan Raknamo dan Rotiklot. Anggaran yang dikeluarkan untuk membangun bendungan tersebut mencapai Rp884 miliar.
Bendungan Napunggete menggunakan konstruksi rockfill atau timbunan batu dengan ketinggian pondasi 52 meter, panjang bendungan 585 meter dan kedalaman bendungan sekitar 48 meter.
Bendungan tersebut juga dilengkapi dengan bangunan fasilitas pengendali bangunan untuk operator, tiga pintu air dengan operasional sistem elektrik terdiri dua pipa penyaluran untuk air irigasi dan air baku berkapasitas berkapasitas sekitar 14 juta meter kubik.
Penyaluran melalui pipa irigasi mampu mengairi 300 hektare lahan pertanian termasuk pencetakan sawah baru. Penyaluran melalui pipa air baku 210 meter kubik perdetik itu dengan sasaran utama Kota Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka untuk memenuhi kebutuhan air bagi 22.000 kepala keluarga (KK).
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Andre Koreh mengatakan hingga saat ini ada tiga bendungan yang sudah dibangun dan satu bendungan lagi akan mulai dibangun pada awal 2018, yakni Bendungan Temef di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
"Untuk progres pembangunan, Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang saat ini sudah mencapai 98 persen, kemudian untuk Bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu saat ini sudah mencapai 90 persen," katanya.
Bendungan Temef yang akan dibangun nanti, menurut Andre, merupakan yang terbesar di NTT karena mampu menampung sumber air baku sebanyak 77 juta kubik, yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat setempat, serta hewan dan sektor pertanian.
Ia mengatakan jika sudah ada empat bendungan yang dibangun di NTT, maka masih sisa tiga bendungan lagi yang akan dibangun sesuai dengan program Presiden Joko Widodo, yakni Bendungan Lambe di Kabupaten Nagekeo, Bendungan Kolhua di Kota Kupang serta Bendungan Manikin di Kabupaten Kupang.
Ia juga menambahkan selama kurang waktu tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo pembangunan di sektor pertanian untuk meningkatkan swasembada beras dan mencegah terjadinya kekeringan di NTT sangat pesat.
Tak hanya di sektor pembangunan bendungan, pembangunan jalan serta jembatan dan kawasan perbatasan juga menjadi prioritas dari mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

