Artikel - Kiprah dua Kartini PLN dibalik berdirinya menara listrik darurat di Pulau Timor

id Kartini, NTT , Kota Kupang

Artikel - Kiprah dua Kartini PLN dibalik berdirinya menara listrik darurat di Pulau Timor

Putri dan Widya yang bertugas saat mendirikan menara darurat di Tower 19. ANTARA/HO

Sejak dahulu saya selalu bermimpi bekerja di PLN. Saya senang sekali ketika harapan saya terwujud dan bisa berkontribusi untuk kampung halaman saya
Kupang (ANTARA) - Badai siklon tropis Seroja yang telah menghantam Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 4-5 April 2021 telah memorak-porandakan hampir 90 persen sistem kelistrikan di berbagai wilayah tersebut.

Salah satu dampak kerusakan terparah berupa robohnya dua unit menara listrik (tower) pada Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) bertegangan 70 kilovolt (kV) di lahan perkebunan Desa Tunfeu, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang sekitar 15 kilometer dari Kota Kupang.

Kerusakan tower yang berperan vital ini berdampak terhentinya pasokan listrik bagi empat kabupaten yaitu Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU) dan Belu.

PLN bergerak cepat melakukan pemulihan hingga akhirnya tower darurat (emergency) setinggi 63 meter berdiri kokoh dan beroperasi pada Minggu (18/4) menggantikan peran dua tower yang rusak itu. Pembangunan dikebut dan tuntas sekitar10 hari, lebih cepat dari perkiraan sebelumnya selama sebulan.

Apresiasi pun berdatangan dari berbagai pihak atas kinerja cemerlang dari petugas PLN, dari pejabat pemerintahan hingga berbagai elemen masyarakat yang girang melihat rumah yang kembali terang.

Di Kefamenanu, ibu  kota Kabupaten TTU, warga bahkan bersorak ria dan melakukan pesta kembang api pada saat listrik kembali menyalah di rumah mereka. Di lain tempat, banjir ucapan terima kasih dilayangkan warga Kota Kupang kepada petugas PLN.

Di balik kesuksesan PLN mengembalikan terang yang sirna akibat amukan badai Seroja, ada kisah heroik dari dua srikandi PLN yang turut serta mendirikan menara setinggi 63 meter tersebut.

Adalah Rosalia Widya Astuti Chandra dan Putri Ramadani. Dua perempuan muda yang ikut dalam tim relawan PLN menjadi garda terdepan memulihkan tower 19 dan 20 yang roboh akibat badai Seroja.

Dua Kartini kartini merupakan putri daerah asal NTT yang bertugas di Unit Layanan Transmisi, dan Gardu Induk Mamuju, Sulawesi Barat. Mereka terbang dari Mamuju menuju kampung halaman.

"Menjelang badai hari itu, saya sudah mulai cemas melihat stories di media sosial teman-teman. Saya melihat hujan begitu besar dan cuaca sangat buruk," ungkap Rosalia Widya Astuti Chandra, akrab disapa Widi (23 tahun), mulai berkisah.

Baca juga: Kata Dirut PLN: Pemulihan kelistrikan di NTT jauh lebih cepat

Widi merupakan lulusan Politeknik Negeri Kupang dan bergabung menjadi bagian PLN dengan jabatan Junior Engineer Pemeliharaan Transmisi sejak tahun 2020.

Ketika badai dahsyat melanda, ia pun bergumul dengan rasa cemas akan nasib sanak keluarganya. "Saya khawatir dengan kondisi keluarga saya yang berada di Kupang," ceritanya.

Widya mengaku takut. Meskipun tidak merasakan langsung, namun ia belum pernah melihat peristiwa bencana alam seperti ini di NTT seusia hidupnya. Berbagai berita media yang menampilkan banyak daerah yang hancur dan banyak korban meninggal dunia akibat bencana itu menghadirkan kesedihan yang mendalam.

Menjadi relawan

Begitu masif dan parahnya dampak bencana terhadap sistem kelistrikan di NTT menggerakkan manajemen PLN di Mamuju mencari relawan untuk diterjunkan ke NTT membantu pemulihan kelistrikan.

"Begitu manajer saya memberitahu info pembukaan relawan untuk pemulihan kelistrikan NTT, tanpa pikir panjang saya langsung mendaftarkan diri. Ternyata disetujui. Saya langsung berangkat ke Kupang untuk bergabung dengan relawan lain di lokasi," ujar dia sambil tersenyum.

Panggilan untuk menjadi relawan juga dirasakan Putri Ramadani. Gadis berusia 23 tahun ini bekerja di bagian Operasi dan pemeliharaan transmisi. Sebagai tim relawan PLN, Widi dan Putri bertugas mengurus masalah persediaan logistik.

Baca juga: Pemprov NTT apresiasi pemulihan listrik pascabencana Seroja berlangsung cepat

Keduanya memastikan semua kebutuhan personel yang bekerja di lokasi bisa terpenuhi dengan baik.
Dua personel perempuan relawan PLN mengangkut material listrik dalam pembanguan tower darurat (emergency) untuk memulihkan pasokan listrik sistem Timor di Desa Tunfeu, Kabupaten Kupang, NTT. (ANTARA/Kornelis Kaha)

“Meski saya dan Widi perempuan, kami tak hanya mengerjakan pekerjaan yang ringan-ringan. Kami juga ikut membantu mengangkat material dan menarik konduktor listrik untuk mendirikan tower," ungkap Putri.

Keduanya sangat termotivasi agar listrik cepat menyala. Sebab, masyarakat di berbagai daerah sedang menanti.

Widya misalnya mengaku sangat puas dengan hasil kerjanya bersama rekan-tekan karena ikut merasakan kebahagiaan ketika melihat wajah-wajah tersenyum gembira karena cahaya listrik.

Bagi Widya ada hal yang sangat menghangatkan hatinya karena sudah membantu banyak orang, walaupun ia sendiri harus bekerja sambil menjalankan ibadah Puasa di bulan Ramadhan.

Baca juga: Artikel - Mereka yang bertaruh nyawa pulihkan urat nadi pasokan listrik di Pulau Timor

Wajah bahagia dan senyum para korban merupakan hadiah dari jerih payah dan pengorbanan para relawan. Bagi keduanya, ini merupakan penghargaan tertinggi dari pekerjaan yang telah mereka lakukan.

"Sejak dahulu saya selalu bermimpi bekerja di PLN. Saya senang sekali ketika harapan saya terwujud dan bisa berkontribusi untuk kampung halaman saya," kata Putri bangga.

Pemberdayaan perempuan

PLN telah berkomitmen dalam pemberdayaan perempuan dengan membangun lingkungan kerja yang inklusif dan setara. Salah satunya dengan peningkatan komposisi perempuan hingga 15 persen pada level pimpinan senior.

Untuk itu, PLN telah membentuk Tim Gugus Tugas Srikandi PLN melalui Gerakan Women Empowerment PLN 2021 #StrongerthanBefore pada 21 April 2021.

Tim ini akan menyiapkan kebijakan yang lebih spesifik terkait kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, serta program-program peningkatan kualitas perempuan di PLN.

Komisaris PLN, Ilya Avianti turut mengapresiasi lahirnya PLN Wowen Empowerement yang yang akan mendukung kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

“Kami mendorong perempuan-perempuan di PLN untuk memiliki kemampuan yang mendukung pekerjaan dan perannya dalam keluarga dan masyarakat, serta meyakini bahwa dirinya penting dan berharga bagi perusahaan,” kata Ilya.

Gerakan ini juga didukung oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) yang menjadi pihak eksternal pertama yang mendukung program-program pengarusutamaan isu gender di PLN.

Baca juga: Dirut PLN perintahkan segera bangun menara listrik permanen di Kupang

“Bersama PLN, kami mulai mendukung pengarusutamaan gender dalam proyek dan program kemitraan di bawah program pembangunan kelistrikan Indonesia Timur, di antaranya Kalimantan, Maluku, dan Papua,” kata Toru Kubo, Director of Southeast Asia Energy Department, ADB Head Quarter.

Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo yang juga hadir pada Gerakan “Women Empowerment PLN 2021, meyakini bahwa perempuan modern saat ini mampu berkarya dan berprestasi secara optimal di tempat kerjanya masing-masing.
Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar