Memprihatinkan nasib nelayan "Pole and Line" Kupang

id Pole

Kapal Pole and Line milik nelayan Kota Kupang (ANTARA Foto/dok)

"Nasib para nelayan penangkap cakalang ini tidak hanya memprihatinkan, namun sudah mengarahkan pada gulung tikar," kata Abdul Wahab Sidin.
Kupang (AntaraNews NTT) - Ketua Bidang Humas dan Informasi Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Kupang Abdul Wahab Sidin melukiskan nasib para nelayan "pole and line" di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur dewasa ini bertambah memprihatinkan.

"Nasib para nelayan penangkap cakalang ini tidak hanya memprihatinkan, namun sudah mengarahkan pada gulung tikar," kata Wahab kepada Antara di Kupang, Senin, ketika menggambarkan situasi terkini yang dihadapi para nelayan "pole and line" Kota Kupang.

Ia mengatakan beroperasinya rumpon-rumpon liar yang dipasang kapal-kapal purse seine besar dari luar Nusa Tenggara Timur di pantai selatan Pulau Timor sampai ke Laut Timor dan wilayah perairan NTT lainnya, menjadi ancaman yang tidak bisa dihindari oleh para nelayan penangkap cakalang tersebut.

"Apa yang didapat oleh para nelayan `pole and line` jika ikan-ikan cakalang itu sudah dilingkar semua oleh kapal-kapal purse seine besar yang menebar rumpon liar di sepanjang pantai selatan Kupang dan Laut Timor," ujarnya dalam nada tanya.

Ia mengatakan dengan adanya penertiban 19 rumpon liar oleh kapal survei Migas dari Kementerian ESDM pada Jumat (9/3) di pantai selatan Kupang, menunjukkan bahwa tidak ada kejujuran dari pihak pengawas serta aparat keamanan setempat dalam membela kepentingan nelayan Kupang.

"Setiap kali nelayan `pole and line` pulang melaut, mereka selalu melaporkan adanya penebaran rumpon liar dengan titik koordinatnya masing-masing kepada pihak pengawas dan aparat terkait, namun laporan itu dianggap seperti angin lalu saja," katanya.

Wahab menduga ada konspirasi tingkat tinggi antara pihak pengawas serta aparat keamanan setempat dengan kapal-kapal purse seine besar dari Bali yang menebar rumpon di sepanjang pantai selatan Kupang dan Laut Timor yang menjadi penghambat migrasi ikan secara alamiah.

Selain itu, katanya, para nelayan "pole and line" Kupang juga semakin sulit mendapatkan umpan hidup di tengah terus membengkaknya biaya operasional serta ditutupnya sejumlah perusahaan pembeli cakalang yang menjadi langganan nelayan `pole and line` selama ini.

"Dengan mencermati berbagai persoalan yang dihadapi nelayan `pole and line` saat ini, apakah eksistensi mereka masih tetap dipertahankan? Semuanya hanya akan menjadi kenangan belaka. Nasib mereka benar-benar memprihatinkan," kata Wahab Sidin.

Ia menambahkan saat ini merupakan masa panen cakalang bagi nelayan `pole and line`, namun semuanya hanya tinggal cerita karena ikan-ikan cakalang yang berbasis di Laut Timor itu telah digaruk semua keluar wilayah NTT oleh kapal-kapal porse seine besar yang tidak ramah lingkungan itu.

"Sebagai nelayan kecil yang mangkal di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Tenau Kupang, saya hanya minta kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk membekukan izin operasi bagi kapal-kapal purse seine besar yang tidak ramah lingkungan itu," katanya.

Wahab menjelaskan dengan ditutupnya izin operasi bagi kapal-kapal purse seine besar itu, mungkin dapat mengembalikan masa keemasan para nelayan `pole and line` Kupang yang kini terus dirundung malang agar bisa bangkit kembali menatap masa depannya bersama keluarga.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar