Kasus HIV di Sabu Raijua meningkat

id AIDS

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) Nusa Tenggara Timur Dr Husein Pancratius. (ANTARA Foto/Aloysius Lewokeda)

Kasus penyebaran HIV/AIDS di wilayah yang berbatasan dengan Australia itu mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Pulau Sabu (AntaraNews NTT) - Komisi Penangulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, menyebutkan kasus penyebaran HIV/AIDS di wilayah yang berbatasan dengan Australia itu mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

"Pada tahun ini saja jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Sabu Raijua sudah tercatat 17 orang penderita, sementara pada tahun 2017 hanya 15 orang," kata Ketua KPA Sabu Raijua Jhon Haga di Seba, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua, Minggu (13/5).

Menurut dia, kasus baru penderita HIV ditemukan awal tahun 2018 menerpa seorang ibu rumah tangga. "Ada ibu rumah tangga yang menderita HIV/AIDS. KPA sedang melakukan pendampingan dan pengobatan terhadap bersangkutan," katanya.

Menurut Jhon 17 penderita HIV/AIDS di kabupaten terluar di NTT itu pada umumnya warga lokal yang sebelumnya tinggal di luar daerah. "Mereka melakukan seks bebas dan penyimpangan seks lainnya," ujarnya.

"Pada umumnya penderita mengidap penyakit ini pernah tinggal di luar Sabu, setelah berada di Sabu baru diketahui mengidap HIV/AIDS melalui pemeriksaan darah," katanya.
Baca juga: Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kupang Meningkat
Ia mengatakan, total jumlah pengidap HIV/AIDS di daerah itu sampai tahun 2018 berjumlah 17 kasus yang mayoritas penderitanya berada pada usia produktif dan ibu rumah tangga.

Mengantisipasi penyebaran penyakit HIV/AIDS itu, KPA bersama pemerintah Kabupaten Sabu Raijua melakukan pembekalan melalui sosialisasi terhadap masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat.

Sementara itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nusa Tenggara Timur (NT) dr Husein Pancartius mengatakan, sebanyak 5.000 warga di provinsi ini terinfeksi virus HIV/AIDS.

"Data yang kami peroleh hingga 2017 jumlah pengidap HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) mencapai sekitar 5.000 orang," kata dr Husein Pancartius.

Baca juga: Global Fund Bantu Rp1,7 Miliar Untuk HIV/AIDS

Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar