NTT fokus perluas pasar coklat produksi Bumdes di Flores

id Dinas PMD NTT

Produk coklat Kobar yang dihasilkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Kobar, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. (ANTARA Foto/istimewa)

Produksi coklat Kobar sudah sangat bagus, namun lingkup pemasaran hanya di Pulau Flores sehingga kami fokus bagimana membantu memperluas pasar sampai di Pulau Timor dan daerah lainnya,
Kupang (ANTARA) - Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sinun Petrus Manuk, mengatakan pihaknya fokus memperluas pasar komoditias coklat yang diproduksi Badan Usaha Milik Desa (BUMN) di Desa Kobar, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores.

"Produksi coklat Kobar sudah sangat bagus, namun lingkup pemasaran hanya di Pulau Flores sehingga kami fokus bagimana membantu memperluas pasar sampai di Pulau Timor dan daerah lainnya," katanya kepada Antara di Kupang, Jumat (12/7).

Ia mengapresiasi pihak pengelola BUMDes dan Pemerintah Desa Kobar yang menurutnya berhasil memanfaatkan potensi hasil bumi berupa tanaman kakao yang melimpah di daerah itu.

Dijelaskannya, komoditas coklat yang dikelola BUMDes tersebut sudah diolah menjadi produk makanan ringan yang bernilai jual secara ekonomi.

"Saya sendiri juga sudah ke sana dan mencoba produk mereka, sangat bagus dan cokelatnya tidak kalah enak seperti coklat silver queen yang ada di pasaran," katanya.

Menurutnya, hanya saja kapasitas produksi cokelat yang dihasilkan BUMdes tersebut relatif masih kecil karena hanya memiliki satu mesin.

Pemerintah provinsi, lanjutnya, melalui tim percepatan pembangunan sedang mengkaji proposal bantuan mesin senilai sekitar Rp400 juta yang diajukan BUMDes tersebut.

Baca juga: BUMDes Teun di Kabupaten Belu dibantu teknologi pengolahan air minum

Dia menambahkan untuk sekali panen coklat di sana bisa mencapai 12 ton namun dengan satu mesin hanya bisa mengolah 6 ton dan sisanya dijual gelondongan,

"Kita mau supaya semua hasil yang dipanen juga dikelola BUMDes dengan mendatangkan satu mesin lagi, mudah-mudahan tahun ini atau paling lambat tahun 2020 pemerintah provinsi bisa bantu ini," katanya.

Sinun Petrus menambahkan, pihaknya menargetkan selain perluasan pasar, produk coklat yang dihasilkan juga bisa disalurkan untuk kebutuhan konsumsi dalam kegiatan pemerintahan.

"Tentu bisa sebagai snack saat acara di lingkungan pemerintahan karena citra rasa dan kemasan sudah bagus, sehingga kami juga sementara sosialisasikan produk ini," katanya.

Baca juga: 10 mesin pengering kelor untuk BUMDes di Malaka
Baca juga: Pemerintah bentuk empat BUMDes penyangga produksi kelor di Malaka
Pewarta :
Editor: Kornelis Aloysius Ileama Kaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar