Polisi hentikan penyelidikan kasus kematian Anselmus Wora

id polda ntt

Polisi hentikan penyelidikan kasus kematian Anselmus Wora

Dirkrimum Polda NTT Kombes Pol Yudi AB Sinlaeloe (tengah) menyatakan pihaknya menghentikan kasus penyedidikan atas dugaan pembunuhan terhadap Anselmus Wora, karena tidak cukup bukti di Mapolda NTT, Jumat (21/2/2020).(ANTARA FOTO/ Kornelis Kaha)

"Alasan dihentikannya penyelidikan kasus tersebut karena tidak cukup bukti," kata Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda NTT Kombes Pol Yudi AB Sinlaeloe...
Kupang (ANTARA) - Polda Nusa Tenggara Timur akhirnya menghentikan penyelidikan kasus dugaan pembunuhan terhadap Anselmus Wora, seorang anggota ASN di Pemkab Ende, di Dusun Ekoreko, Desa Rorurangga, Kecamatan Pulau Ende, Kabupaten Ende, Flores.

Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda NTT Kombes Pol Yudi AB Sinlaeloe kepada wartawan di Kupang, Jumat (21/2) mengatakan alasan dihentikannya penyelidikan kasus tersebut karena tidak cukup bukti.

"Anselmus Wora yang diduga tewas dibunuh pada 31 Oktober 2019 lalu, ternyata tidak cukup bukti, sehingga kami memandang penting untuk menghentikan penyidikannya," kata Kombes Sinlaeloe.

Ia menjelaskan bahwa dari hasil pemeriksaan ahli forensik dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, yang melakukan autopsi mayat korban menerangkan bahwa adanya penebalan pembuluh nadi jantung (koroner) kiri depan sebesar 50 persen.

Selain itu juga ditemukan adanya resapan darah di bawah kulit kepala hampir seluruh bagian yang mana dapat disebabkan akibat kekerasan menggunakan benda tumpul.

Baca juga: Pelayanan publik 4 Polres di NTT masuk zona merah
Baca juga: Warga desak Polda NTT ungkap kasus pembunuhan ASN di Ende


"Selain itu ditemukan juga kemerahan pada tulang dahi serta otak membubur warna abu-abu bercampur merah yang lazim ditemukan pada otak yang mengalami pendarahan," tambah dia.

Oleh karena itu, lanjut dia, kasus tersebut, ahli forensik menyimpulkan bahwa pendarahan pada otak korban dapat menjadi penyebab kematian Anselmus Wora.

Polisi juga menyatakan bahwa dari laporan ahli forensik juga meninggalnya korban akibat pembuluh darah di otak pecah. Sebab dari informasi yang diterima disebutkan bahwa korban memiliki riwayat hipertensi.

"Sehingga apabila tidak terkontrol kemungkinan dapat menyebabkan kegawatdaruratan dengan akibat pecahnya pembuluh darah otak. Pernyataan dari ahli forensik yang pertama juga mendapat dukungan dari ahli forensik kedua yakni dr. Arif Wahyono," tutur dia.

Pihaknya juga kata dia akan kembali membuka kembali kasus ini jika ada bukti-bukti baru yang ditemukan keluarga korban .

“Kami membuka diri bagi pihak keluarga, yang apabila ingin membuka kembali penyidikan silahkan kirimkan bukti-bukti kepada kami sehingga kami dapat membantu," ujar dia.

Baca juga: Wakapolda: NTT perlu banyak pepohonan, ini manfaatnya
Baca juga: Brimob Polda NTT siaga terhadap bencana alam
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar