BPS NTT Tambah Satu Kota Inflasi

id Kota Inflasi

BPS Nusa Tenggara Timur pada 2018 akan menambah Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur di Pulau Sumba sebagai kota inflasi untuk mendukung penghitungan inflasi di provinsi NTT.

BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur segera menambah Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur di Pulau Sumba sebagai kota inflasi, untuk mendukung penghitungan inflasi di provinsi setempat.
Kupang (Antara NTT) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur segera menambah Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur di Pulau Sumba sebagai kota inflasi, untuk mendukung penghitungan inflasi di provinsi setempat.

"Saat ini kita punya dua kota inflasi yaitu Maumere di Pulau Flores, dan Kota Kupang di Pulau Timor, nanti tahun 2018 kami tambah lagi Kota Waingapu di Pulau Sumba," kata Kepala BPS Provinsi NTT Maritdje Pattiwaellapia di Kupang, Rabu.

Menurut dia, penambahan kota inflasi tersebut untuk menyukseskan survei biaya hidup (SBH) di 2018 sehingga bisa mendapatkan lebih banyak lagi komoditi mengingat banyak jenis yang sudah berubah sejak 10 tahun terakhir.

"Yang dulu mungkin kita beli pulsa masih pakai kartu, sekarang bisa lewat SMS Banking atau online, orang juga sudah mulai marak membeli barang secara online, jadi banyak yang sudah berubah," katanya mencontohkan perubahan komoditas yang dimaksud.

Menurut dia, perubahan komoditas tersebut membuat pihaknya harus memperbaiki kualitas penghitungan inflasi menjadi lebih baik di masa mendatang, sehingga perlu di tambah lagi satu kota inflasi sehingga tiga pulau besar di NTT ini bisa terwakili," katanya.

Maritdje mengatakan, terkait kondisi inflasi tahun kelander dari Januari sampai November 2017 masih cukup tinggi namun masih di bawah nasional sebesar 3,3 persen.

Sementara kondisi inflasi di NTT yang tercatat pada bulan November 2018 sebesar 0,73 yang menurutnya masih perlu diantisipasi lagi agar tidak tinggi menjelang akhir tahun.

Kondisi musim hujan maupun akhir tahun anggaran yang berdampak pada percepatan penuntasan berbagai proyek berpotensi menimbulkan kenaikan harga.

Untuk itu, katanya, perlu adanya antisipasi untuk kenaikan harga sejumlah komoditas seperti angkutan udara dan bahan makanan seperti daging ayam ras, sayuran sawi putih dan ikan kembung, dan cabai rawit.

"Berbagai komoditi ini perlu diantisipasi karena pada November lalu berpotensi meningkat sehingga harus diantisipasi agar inflasi di Desember ini bisa terjaga," katanya. 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar