Pilkada 2018 - Flores jadi penentu kemenangan Pilgub NTT

id Ahmad Atang

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr Ahmad Atang MSi. (ANTARA Foto/Bernadus Tokan)

Wilayah pemilihan Flores akan menjadi penentu utama kemenangan dalam pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur NTT tahun 2018.
Kupang (AntaraNews NTT) - Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr Ahmad Atang MSi berpendapat, wilayah pemilihan Flores akan menjadi penentu utama kemenangan dalam pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur NTT tahun 2018.

"Yang akan menentukan kemenangan pada Pilgub 27 Juni 2018 adalah di Flores. Pemilih Flores, Lembata dan Alor kurang lebih 1,5 juta orang," kata Ahmad Atang kepada Antara di Kupang, Selasa.

Dia mengemukakan hal itu, terkait wilayah pemilihan yang diperkirakan dapat memberikan peluang kemenangan bagi empat pasangan calon dalam Pilgub 2018 jika dilihat dari geopolitik dan ideologis.

KPU telah menetapkan empat pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur untuk Pilgub 2018, yakni pasangan Esthon L Foenay-Christian Rotok (Esthon-Chris) yang diusung Partai Gerindera dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Pasangan calon Marianus Sae -Emilia Nomleni (MS-EMI) yang diusung PDI Perjuangan dan PKB, pasangan calon Beny K Harman-Benny Litelnoni (Harmoni) yang diusung Demokrat, PKS dan PKPI, serta pasangan calon Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef Nae Soi (Vicktory-Joss) yang diusung Partai NasDem, Golkar dan Partai Hanura.

"Kalau Marianus Sae tidak terjerat kasus hukum maka yang menentukan kemenangan dalam Pilgub NTT adalah para pemilih di wilayah Pulau Sumba, tetapi sekarang bukan lagi Sumba sebagai penentu. Yang menentukan kemenangan di Pilgub 27 Juni nanti adalah di Flores," katanya.

Dia mengatakan pemilih yang tersebar di Pulau Flores, Lembata dan Alor kurang lebih 1,5 juta orang, sementara pemilih Timor, Sabu dan Rote sekitar 1,3 juta orang lebih, dan pemilih Sumba sekitar 530.000 lebih.

Jika dilihat dari latar belakang agama, lanjut Atang, pemilih Katolik sekitar 1,8 juta, pemilih Protestan sekitar 1,2 juta, dan pemilih Islam sekitar 370 ribu lebih, dan sisanya dari Hindu dan Budha.

Dalam pandangannya, pasca KPU NTT menetapkan empat pasangan calon untuk bertarung pada Pilgub NTT 2018, empat pasangan calon telah mewakili politik representatif berdasarkan geopolitik dan ideologis, sehingga basis dukungan politik terhadap paslon cenderung terpola berdasarkan sentimen ideologis dan kultural.

Dalam konteks ini, kata Atang, basis dukungan Flores cenderung kuat pada paslon Harmoni. Kasus yang menimpa Marianus Sae, kata Atang, sedikit banyak telah mengubah peta dukungan politik yang berbasis geopolitik.

Flores menjadi arena permainan baru untuk diperebutkan karena menjadi penentu kemenangan yang awalnya adalah Sumba. Dengan adanya kasus tersebut, secara psikologis politis paslon Harmoni diuntungkan dan memiliki peluang menang lebih besar.

Walaupun demikian, ancaman bagi paslon Harmoni jika pendukung Marianus Sae mengambil sikap Golput. "Karena itu memperebutkan pemilih Flores menjadi penting dan strategis jika tidak ingin kalah," demikian Ahmad Atang. 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar