220 remaja putus sekolah di Manggarai dilatih menenun

id NTT,tenun ikat NTT,manggarai

220 remaja putus sekolah di Manggarai dilatih menenun

Ketua Dekranasda Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Meldiyanti Hagur Nabit (kanan) bersama Bupati Manggarai Heribertus G.L Nabit (kiri) (ANTARA FOTO/ Benny Jahang)

...Para remaja yang dilatih untuk menjadi penenun tenun ikat khas NTT itu merupakan remaja putus sekolah. Kami melatih mereka untuk menjadi penenun untuk melestarikan tenun ikat Manggarai
Kupang (ANTARA) - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, telah melatih 220 remaja putus sekolah untuk menjadi penenun kain tenun ikat khas NTT.

"Para remaja yang dilatih untuk menjadi penenun tenun ikat khas NTT itu merupakan remaja putus sekolah. Kami melatih mereka untuk menjadi penenun untuk melestarikan tenun ikat Manggarai," kata Ketua Dekranasda Kabupaten Manggarai, Meldiyanti Hagur Nabit saat dihubungi, Selasa, (30/11).

Ia mengatakan Kabupaten Manggarai mendapat kuota 220 orang dari kuota 1.000 orang yang dialokasikan Dekaranasda NTT untuk ikut dalam program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) 2021.

"Kabupaten Manggarai merupakan kabupaten dengan kuota peserta paling banyak se-Nusa Tenggara Timur," kata Meldiyanti Hagur Nabit.

Pada Sabtu 27 November 2021, Dekranasda Kabupaten Kabupaten Manggarai secara resmi menggelar pameran hasil karya para peserta PKW yang dihadiri Ketua Dekranasda Provinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat.

Meldiyanti Hagur Nabit menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan ini itu sehingga 220 remaja dari kabupaten di Pulau Flores itu memiliki keterampilan dalam menenun kain tenun ikat.

“Terima kasih kepada Ibu Ketua Dekranasda Provinsi NTT, Julie Laiskodat karena kami mendapat program PKW ini dan terima kasih juga kepada Kementerian  Pendidikan, kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang ikut mendukung kegiatan pelatihan bagi 220 remaja itu," kata Istri Bupati Manggarai, Herybertus GL Nabit itu.

Ia menegaskan kegiatan itu bisa berlangsung dengan sukses karena tidak terlepas dukungan Bupati, Wakil Bupati, dan Ketua DPRD Manggarai.

“Terima kasih, kami sudah diberikan ruang yang cukup untuk mengembangkan kreativitas di Kabupaten Manggarai. Perlu saya sampaikan, anak-anak kami sangat luar biasa,” kata Meldiyanti Hagur Nabit.

Ia mengaku, awalnya pesimistis, apakah peserta PKW akan serius mengikuti pelatihan. Namun, saat pemetaan potensi mereka menunjukkan keseriusan.
Peserta PKW di Manggarai dibagi berdasarkan potensi yakni, tenun, ecoprint, pewarnaan benang alam, dan jahit.

Sementara itu secara terpisah Ketua Dekranasda NTT Julie Sutrisno Laiskodat mengapresiasi Dekranasda Kabupaten Manggarai yang berhasil melatih 220 remaja putus sekolah menjadi penenun tenun ikat NTT.

"Pelatihan menenun tenun ikat memiliki manfaat jangka panjang karena para remaja dilatih untuk melestarikan budaya NTT. Tentun ikat NTT dengan beragam motif merupakan aset budaya yang harus terus dilestarikan," katanya.

Ia mengatakan dalam program PKW 2021 terdapat 1.000 remaja dari 17 kabupaten di NTT yang dilatih untuk menenun dan peserta terbanyak dari Kabupaten Manggarai yang sukses melatih 220 remaja menjadi penenun.

Baca juga: BPOLBF sebut digitalisasi buka peluang pelaku usaha di tengah pandemi

Baca juga: Industri pariwisata Labuan Bajo telah memperkuat adaptasi tren baru pariwisata
Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2022