Kaleidoskop-Menyambut Indonesia Emas melalui Kurikulum Merdeka

id Kurikulum Merdeka,Merdeka Belajar,Transformasi pendidikan,Tingkat literasi,artikel pendidikan Oleh Astrid Faidlatul Habibah

Kaleidoskop-Menyambut Indonesia Emas melalui Kurikulum Merdeka

Penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah menengah pertama (SMP). ANTARA/HO-Kemendikbudristek

...Kebebasan itu disesuaikan dengan jurusan masing-masing mahasiswa sehingga mereka bisa mengeksplorasi kreativitas dan inovasi keilmuan agar berdampak secara lebih nyata baik bagi masa depan maupun masyarakat
Program Merdeka Belajar Episode Ke-23: Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi Indonesia merupakan terobosan untuk meningkatkan kompetensi literasi para peserta didik di Indonesia.

Program itu fokus pada pengiriman buku bacaan bermutu untuk pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) yang disertai dengan pelatihan bagi guru terkait cara memanfaatkan buku dengan benar agar lebih berdampak positif bagi siswa.

Peluncuran Merdeka Belajar Episode Ke-23 sendiri diwujudkan untuk menjawab tantangan rendahnya kemampuan literasi anak-anak akibat kurangnya kebiasaan membaca sejak dini karena masih belum tersedianya buku bacaan yang menarik minat peserta didik.

Berdasarkan hasil Asesmen Nasional (AN) tahun 2021, Indonesia mengalami darurat literasi yakni satu dari dua peserta didik jenjang SD sampai SMA belum mencapai kompetensi minimum literasi.

Fakta lain yang ditunjukkan dari hasil AN adalah terdapat kesenjangan pada kompetensi literasi karena cukup banyak sekolah terutama di kawasan terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) yang memiliki peringkat literasi dan numerasi di level satu atau sangat rendah.

Hasil tersebut konsisten dengan data dari Programme for International Student Assessment (PISA) selama 20 tahun terakhir yang menunjukkan skor literasi anak-anak Indonesia masih rendah dan belum meningkat secara signifikan.

Meski demikian, program pengiriman buku bukan kebijakan baru karena pada tahun lalu Kemendikbudristek telah menyediakan lebih dari 15 juta eksemplar buku bacaan bermutu disertai pelatihan dan pendampingan untuk lebih dari 20 ribu PAUD dan SD.

Hanya saja pada kesempatan kali ini, Kemendikbudristek menghadirkan terobosan untuk mengoptimalisasi upaya sebelumnya yakni mulai dari peningkatan jumlah eksemplar, judul buku, jenis buku, sampai pemilihan sekolah penerima buku.

Pemilahan dan pemilihan buku yang tepat turut menjadi kunci dalam meningkatkan literasi sehingga buku bacaan yang dikirim ke sekolah merupakan buku-buku yang berperan sebagai jendela, pintu geser, dan cermin bagi pembaca anak.

Pada peran sebagai jendela, buku membantu siswa melihat pengalaman baru yang berbeda dari kehidupannya melalui kejadian yang dialami tokoh cerita. Adapun perannya sebagai pintu geser, buku membawa siswa berimajinasi mengeksplorasi dunia baru melalui ilustrasi dan cerita fantasi.

Sementara buku berperan sebagai cermin, yaitu buku memberikan kesempatan untuk merefleksikan pengalaman hidup para siswa melalui cerita dalam buku sehingga mendukung peningkatan daya pikir kritis anak dengan melakukan refleksi atas hal-hal yang ada di sekitarnya.

Peningkatan kompetensi literasi pun dinilai tidak dapat dilakukan hanya dengan mengirim buku tanpa pendampingan sehingga pemerintah sekaligus memberikan pelatihan agar tidak ada buku yang menumpuk di perpustakaan karena tidak dimanfaatkan.

Literasi yang meningkat akan membawa anak-anak Indonesia semakin ingin mengetahui dan mengeksplorasi banyak hal termasuk memperluas wawasan dan pengetahuan sekaligus membentuk pemikiran kritis untuk membantu mereka dalam mengambil keputusan.


Bersekolah yang menyenangkan