Pemkab Flores Timur lakukan observasi klinis di 19 kecamatan cegah ASF

id Asf, flores timur, ternak babi, flotim, ntt, flores

Pemkab Flores Timur lakukan observasi klinis di 19 kecamatan cegah ASF

Ilustrasi - Ternak babi. (ANTARA/HO-Kantor Karantina Pertanian Ende)

...Kami melakukan observasi klinis di 19 kecamatan untuk meningkatkan deteksi dini, kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Flores Timur drh Vianey Kiti Tokan dari Larantuka, Flores Timur, Selasa, (6/2/2024)  
Kupang (ANTARA) -
Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), melakukan observasi klinis ternak babi di 19 kecamatan di wilayah itu sebagai langkah antisipasi dan pencegahan terhadap penyakit African Swine Fever (ASF) atau demam babi afrika.
 
"Kami melakukan observasi klinis di 19 kecamatan untuk meningkatkan deteksi dini," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Flores Timur drh Vianey Kiti Tokan dari Larantuka, Flores Timur, Selasa, (6/2/2024).
 
Menurut di, observasi klinis merupakan langkah pengamatan gejala terhadap suatu penyakit.
 
Dalam pencegahan ASF, kata dia, petugas melakukan pengamatan gejala di suatu tempat untuk melihat babi menunjukkan gejala yang mengarah ke ASF atau tidak.
 
Penyakit ASF memiliki tanda klinis seperti demam tinggi, depresi, tidak mau makan, kemerahan di telinga, perut, dan kaki, serta keguguran pada induk yang bunting, dan kematian dalam waktu 6-13 hari.
 
Selain itu, babi juga mengalami muntah, diare, dengan tingkat kematian babi dapat mencapai 100 persen.
 
 
Pejabat Otoritas Veteriner Kabupaten Flores Timur ini menegaskan pentingnya observasi klinis untuk pencegahan ASF.
 
Dengan observasi klinis yang tepat, pihaknya dapat mengambil langkah penanganan selanjutnya terhadap babi yang sudah bergejala ASF.
 
Ia menjelaskan beberapa langkah lain yang dilakukan oleh dinas setempat yakni peningkatan kesadaran masyarakat untuk penerapan biosekuriti yang ketat.
 
Selain itu, juga memperketat pengawasan di beberapa titik pengecekan lalu lintas, seperti pengawasan di Desa Adabang dan Boru di wilayah perbatasan antara Flores Timur dan Kabupaten Sikka.
 
Penjagaan di titik pengecekan dilakukan dengan memeriksa fisik hewan dan dokumen hewan yang dilalulintaskan.
 
Langkah berikutnya yang dilakukan untuk mencegah penyebaran ASF yakni memberikan bantuan disinfeksi bagi peternak.
 
"Kami juga lakukan peningkatan kewaspadaan dan pengawasan untuk petugas pusat kesehatan hewan," ucapnya.
 
 
Pemerintah Kabupaten Flores Timur telah mengeluarkan surat imbauan bagi masyarakat untuk meningkatkan pengawasan lalu lintas ternak sebagai langkah pencegahan penyakit ASF.
 
Penjabat Bupati Flores Timur Doris Alexander Rihi dalam surat imbauan resmi yang diterima di Kupang, meminta warga agar meningkatkan pengawasan lalu lintas ternak babi dan produk olahan babi antarkabupaten, kecamatan, kelurahan, dan desa melalui darat, laut, dan udara, serta melalui jalan resmi dan tidak resmi.
 
Imbauan itu dikeluarkan sehubungan dengan kejadian kasus kematian babi akibat penyakit ASF di Kabupaten Sikka.
 
Ia mengimbau warga agar wajib melaporkan informasi kesakitan dan kematian babi secepat-cepatnya pada petugas Pusat Kesehatan Hewan setempat atau Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Flores Timur.
 
Doris juga menegaskan bahwa setiap ternak babi atau produk asal babi yang didatangkan dari luar wilayah Flores Timur wajib mendapatkan rekomendasi dari dinas teknis setempat.

Adapun data kematian babi karena ASF di Kabupaten Flores Timur pada tahun 2023 sebanyak 251 ekor.

Baca juga: Pemkab Lembata larang warga bawa ternak babi dari luar daerah

Baca juga: Pemkab Flotim imbau warga cegah penyebaran penyakit ASF

Baca juga: Karantina musnahkan 70 kilogram daging babi ilegal




 


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Flores Timur lakukan observasi klinis di 19 kecamatan cegah ASF