Atambua (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia memusnahkan 887 komoditas impor media pembawa hama dan penyakit yang masuk melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Mota Ain di Kabupaten Belu dalam kurun waktu Juni 2024 hingga Februari 2025.
Deputi Karantina Hewan Badan Karantina Indonesia drh. Sriyanto di Mota Ain, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Rabu, mengatakan bahwa tindakan pemusnahan ini bentuk komitmen Barantin dalam menjaga keamanan sumber daya hayati Indonesia.
"Jika hama dan penyakit berhasil lolos masuk ke wilayah NTT, akan berisiko pada kelestarian sumber daya alam kita," katanya.
Meskipun jumlah yang masuk sedikit, menurut Sriyanto, masuk dalam kategori risiko tinggi dan akan menimbulkan dampak kerugian ekonomi masyarakat relatif sangat besar.
Sejumlah media pembawa penyakit hewan dan ikan serta tumbuhan yang masuk ke Indonesia melalui PLBN di NTT itu, kata dia, berasal dari negara Timor Leste.
Ketika diperiksa, tidak ada dokumen resmi seperti sertifikat kesehatan dari negara asal serta tidak dilengkapi dengan persetujuan impor terpaksa dilakukan tindakan pemusnahan.
"Kami tidak bisa menjamin berkaitan dengan kesehatan itu, bisa berpotensi membawa masuk dan tersebarnya hama penyakit ke Provinsi NTT dan salah satu penyakit yang kami waspadai adalah penyakit mulut dan kuku," kata dia.
Sriyanto memperkirakan kerugian akibat masuknya penyakit mulut dan kuku ke NTT bisa mencapai Rp17 triliun, belum termasuk dengan penanganan dan pencegahan penyebaran penyakit mulut dan kuku itu.
Disebutkan oleh Plt. Kepala Karantina NTT Simon Soli, dari 887 komoditas impor dari Timor Leste yang dimusnahkan tersebut, terdiri atas 372 kg sosis ayam, 495 kg beras, dan 20 kg komoditas lainnya berupa buah apel, ikan tuna kering, daging babi olahan, dan daging sapi olahan .
"Semuanya masuk dari Timor Leste," ujar dia.
Ketika melakukan pengawasan lalu lintas PLBN Mota Ain, pihaknya tidak pernah menoleransi sedikit pun komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan yang melintas tanpa dokumen, termasuk barang tentengan, karena berpotensi membawa hama dan penyakit yang merugikan sumber daya alam Indonesia.
Pada tahun 2024, kata dia, Karantina NTT sudah melakukan empat kali pemusnahan.
Pada kesempatan itu, dia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang turut mendukung pemusnahan tersebut.
Ia lantas mengimbau masyarakat, khususnya pelaku usaha yang akan melalulintaskan hewan, ikan, tumbuhan, dan produknya ke wilayah Indonesia, untuk mematuhi Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, serta peraturan lainnya yang menjadi pedoman penting dalam menjaga keamanan sumber daya hayati Indonesia.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Barantin musnahkan 887 komoditas impor pembawa penyakit di perbatasan