Jepang berminat terhadap produk kelor BUMDes Fukeu

id Kelor

Usaha tanaman kelor di NTT. (ANTARA Foto/ist)

Produk kelor yang dikelola badan usaha milik desa (BUMDes) Fukeu di Kabupaten Malaka, diminati pihak eksportir dari Jepang.
Kupang (ANTARA) - Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sinun Petrus Manuk, mengatakan produk kelor yang dikelola badan usaha milik desa (BUMDes) Fukeu di Kabupaten Malaka, diminati pihak eksportir dari Jepang.

"Beberapa waktu lalu pihak Jepang sudah kirim tim ahli untuk teliti kondisi tanah, air, dan kelor di Kufeu, dan Jepang minta untuk produk kelor bisa dikirim ke sana," katanya kepada Antara di Kupang, Sabtu (25/5).

Ia mengatakan, BUMDes Fukeu, telah berhasil mengelola tanaman kelor menjadi aneka produk seperti sabun, pelembab tubuh, maupun tepung kelor dengan dukungan fasilitas produksi seperti rumah pengering dan mesin penepung.

Untuk jenis produk kelor yang diminati Jepang, lanjutnya, berupa tepung yang sudah dihasilkan dalam kemasan sesuai standar ekspor.

"Tepung kelor yang dihasilkan juga sehalus bedak karena itu diminati Jepang yang meminta untuk bisa diekspor ke sana," katanya.

Baca juga: Gubernur NTT: Kelor diolah jadi aneka produk yang bernilai jual

Sinun mengatakan, hanya saja kondisi kapasitas produksi tepung kelor ini masih terbatas sehingga belum mampu memenuhi permintaan luar negeri.

Untuk itu, lanjutnya, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah pemerintah dan BUMDes di desa setempat untuk fokus memperkuat kapasitas produksi.

"Karena kalau permintaan ekspor harus bisa berkelanjutan, bukan hanya satu bulan dikirim lalu berhenti kemudian lanjut lagi, tapi seterusnya dalam jumlah banyak," katanya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan mengirim tim ke Desa Fukeu untuk melakukan upaya-upaya seperti perbaikan managemen maupun personalia dan peningkatan produksi.

Baca juga: Gubernur NTT instruksikan SKPD sajikan pangan berbahan kelor
Baca juga: Artikel - NTT meraup manfaat daun kelor
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar