Bank Indonesia perkuat UMKM klaster kopi di Ngada

id UKMK kopi di Ngada

Manajer Fungsi Koordinasi, Komunikasi dan Kebijakan, BI Provinsi NTT, Andre Asa (kedua kanan), sedang memaparkan materi dalam pertemuan triwulanan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTT dan awak media massa di Kupang, Senin (22/4). (ANTARA FOTO/Aloysius Lewokeda)

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur terus memperkuat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam mengembangkan hasil komoditas unggulan kopi di Kabupaten Ngada, Pulau Flores.
Kupang (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur terus memperkuat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam mengembangkan hasil komoditas unggulan kopi di Kabupaten Ngada, Pulau Flores.

"Kami punya UKMK klaster kopi di Ngada yang terus diperkuat. Baru-baru ini kami latih mereka, baik dari sisi SDM maupun kelembagaan," kata Manajer Fungsi Koordinasi, Komunikasi dan Kebijakan BI Provinsi NTT, Andre Asa, dalam pertemuan triwulanan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT dan awak media massa di Kupang, Senin (22/4).

Ia mengatakan, hasil komoditas kopi di Kabupaten Ngada sudah cukup terkenal memiliki kualitas yang unggul dan mengantongi sertifikasi single origin atau era gelombang kopi ketiga atau dari mana wilayah kopi itu berasal.

Untuk itu, pihaknya telah melakukan penandatangan nota kesepakatan bersama Pemerintah Kabupaten Ngada dan Bank NTT untuk mengembangkan klaster kopi melalui UMKM di daerah itu.

"Tujuannya kita bina mereka dengan sasaran ke depan bisa melakukan ekspor dari NTT. Ini juga sebagai upaya untuk mengatasi ketimpangan struktur ekonomi kita yang masih didominasi impor," katanya.

Andre mengatakan, BI NTT terus mendorong pengembangan berbagai komoditas unggulan masyarakat di provinsi berbasiskan kepulauan itu sebagai sumber ekonomi baru bagi masyarakat melalui klaster-klaster UKMK.

Selain klaster kopi, lanjutnya, pihaknya juga telah membentuk klaster cabai merah di Kabupaten Sumba Barat Daya, klaster bawang merah di Kabupaten Belu, klaster sapi yang terintegrasi dengan bawang di Kupang, klaster padi di Kabupaten Manggarai Barat, klaster tenun ikat di Kabupaten Sumba Timur.

Baca juga: BUMDes di Flores diharapkan bisa kelola usaha kopi
Baca juga: Dua merek kopi asal Flores perlu diunifikasi
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar