Petani Sumba Barat Daya buat pupuk organik

id PUPUK

Kelompok petani dari desa Goludapi, Rabu (13/6) terlihat sedang mencincang daun-daun, batang pisang, jerami dan batang jagung kering untuk kemudian dicampur dengan serbuk kayu, kotoran ternak dan biang pupuk berupa ramuan fermentasi MOL (Mikro Organisme Lokal) dan diperam hingga menjadi pupuk. (ANTARA Foto/Maria Dian Andriana)

Sejumlah petani di Sumba Barat Daya (SBD) terlihat antusias membuat sendiri pupuk organik dengan bimbingan dari Yayasan Pengembangan Kemanusiaan (YPK) Donders.
Sumba Barat Daya, NTT (AntaraNews NTT) - Sejumlah petani di Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terlihat antusias membuat sendiri pupuk organik dengan bimbingan dari Yayasan Pengembangan Kemanusiaan (YPK) Donders, seperti yang ditunjukkan oleh para petani di Kampung Goludapi, Desa Weelonda, Rabu (13/6).

Beberapa orang anggota kelompok petani desa Goludapi terlihat sedang mencincang daun-daun, batang pisang, jerami dan batang jagung kering untuk kemudian dicampur dengan serbuk kayu, kotoran ternak dan biang pupuk berupa ramuan fermentasi MOL (Mikro Organisme Lokal) dan diperam hingga menjadi pupuk.

Dewi Mandeta, pendamping dari YPK Donders mendampingi mereka untuk mengerjakan salah satu proses pembuatan pupuk organik yang akan dimanfaatkan oleh  26 petani anggota kelompok tersebut.

"Kami akan memakainya untuk memupuk semua jenis tanaman, yaitu padi, jagung, kakao, jambu mete dan lain-lain," kata Benediktus Lede Dairo, salah seorang petani sambil memotong dedaunan dari tanaman liar.

Beni, Magdalena Mila Ate dan ketua kelompok tani Lambertus Ngongo Lede serta sejumlah petani lain pagi itu mendapat bantuan dari putra-putri mereka yang sedang libur sekolah, untuk mengumpulkan dedaunan, kotoran ternak bahkan mencincang bahan-bahan tersebut.

Anak-anak terlihat bekerja sambil bermain sekaligus belajar membuat pupuk organik di tempat pembuatan pupuk berupa bangunan berlantai semen dan atap yang terletak di samping bangunan Uma Pege (Rumah Pintar) desa setempat.

Baca juga: Stok Pupuk Masih Aman
Kelompok petani dari desa Goludapi terlihat sedang mencincang daun-daun, batang pisang, jerami dan batang jagung kering untuk kemudian dicampur dengan serbuk kayu, kotoran ternak dan biang pupuk berupa ramuan fermentasi MOL (Mikro Organisme Lokal) dan diperam hingga menjadi pupuk. (ANTARA Foto/Maria Dian Andriana)
"Aduh badan gatal semua," seru Goris saat mencincang jerami kering, tetapi keluhan tersebut tidak membuatnya berhenti bekerja.

Dewi menjelaskan,  biang pupuk berupa MOL yang telah disiapkan tersebut, akan dicampurkan dengan bahan-bahan untuk menjadi sekitar satu ton pupuk organik padat yang kelak dapat dimanfaatkan menyuburkan tanaman sekitar satu hektare.

Bahan campuran pupuk organik ini meliputi daun, buah dan batang, pada saat digunakan akan terurai untuk menyuburkan tanaman dengan bagian masing-masing yaitu dahan/pohon, daun dan buah.

MOL merupakan bahan campuran dari buah pepaya masak, nasi setengah tanak yang difermentasi, air kelapa dan gula merah. Seluruh bahan tersebut bisa diperoleh dengan mudah di kampung kecuali gula merah yang harus dibeli dengan harga Rp25.000,- sekilo.

YPK Donders membina hampir seratus kelompok tani di empat kabupaten Sumba, antara lain 36 kelompok di SBD, dengan menggandeng kerjasama dengan beberapa pihak seperti Organisasi Pangan dan Pertanian - PBB (FAO), Millennium Challange Account-Indonesia (MCAI).

"Pendampingan mesti dilakukan dengan sabar sampai para petani terbiasa membuatnya," kata Dewi yang dengan telaten membimbing para petani.

Baca juga: Petani Diminta Kurangi Pupuk Urea
 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar